• Headline

    Bandung Creative Hube Resmi Dibuka

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri28 Desember 2017 20:16
    fotografer: Syamsuddin Nasution
    INILAH, Bandung - Pemerintah Kota (Pemkot) akhirnya secara resmi membuka Bandung Creative Hub (BCH). Bangunan yang terletak di Jalan Laswi no.7 ini juga sudah terisi oleh pelaku industri kreatif di Kota Bandung.

    Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil beserta Oded Muhammad Danial tampak kompak menjajaki sejumlah fasilitas di BCH. Keduanya juga turut meninjau beberapa stand produk kreatif mulai dari kuliner, fashion, hingga furniture dan kerajinan tangan.

    Emil, panggilannya, bisa bernafas lega karena bangunan yang seharusnya ditargetkan rampung pada Mei 2017 silam ini akhirnya sudah bisa digunakan. BCH ini menjadi bukti nyata perhatian Pemkot untuk terus mengembangkan potensi kreatifitas warga Kota Bandung.

    "Hari ini alhamdulilah bangunan yang selama ini ditunggu-tunggu sudah mulai bisa berfungsi.Visi misi dari saya dan Mang Oded ingin membawa Bandung menjadi kota kreatif dunia caranya adalah menfasilitasi ruangan, fasilitas teknologi yang biasanya sangat mahal dan tidak mudah," kata Emil di Gedung BCH, Jalan Laswi, Bandung, Kamis (28/12)‎.

    Emil pun lantas mengimbau kepada siapapun warga Kota Bandung yang untuk bisa memaksimalkan BCH sebagai sarana untuk mengembangkan kreatifitasnya. Sehingga, kata dia, bukan hanya sebatas mempunyai nilai kekaryaan namun juga turut mengandung potensi ekonomi.

    "Warga Bandung tinggal bawa gagasan saja. Urat oretan imajinasinya bisa diwujudkan prototip atau contohnya nya disini. Kalau berhasil kita bantu marketing sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Nanti akumulasi kan membawa kreatif ekonomi sangat besar," paparnya.

    Gedung BCH ini memiliki lima lantas, plus satu dak yang dimanfaatkan sebagai rooftop. Di lantai pertama terdapat cafe, Design store, storage danmushola. Kemudian lantai dua difungsikan sebagai loby entrance, perpustakaan, cofee Shop dan co working space.

    Di lantai ketiga Gedung BCH juga terdapat auditorium atau bisa dipakai sebagai bioskop‎, studio musik, ruang desain arsip, area pameran, studio game, animasi dan multimedia. Kemudian lantai empat berisikan studio foto, kelam workshop kecil empat ruangan, serta ruang management.

    Di lantai lima terdapat fashion galery, ruang serbaguna dan craft room. Selain lantai enam yang dibuat rooftop, di bagian basement juga dimaksimalkan sebagai ruang printer 3D, mesin laser cutting, digital Cutting, lalu printer kain dan dryer.

    "Silahkan manfaatkan, ruangannya lebih dari 10 berbagi jenis kreatifitas kota Bandung. Mudah-mudahan bisa bermanfaat ini salah satu paling lengkap dan canggih di Indonesia," bebernya.

    Untuk skema penggunaan Gedung BCH ini, Emil ‎yang menugaskan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sebagai pengelola lapangan agar mengutamakan warga kota Bandung terlebih dahulu. Setelah itu, apabila memang ada event berskala besar baru bisa ditampung setelahnya.

    "Tentunya ada management gedung yang dikelola Disbudpar fokusnya dahulukan dulu warga KTP Bandung dan untuk pemuda Bandung. Tapi tidak menutup kemungkinan jika dari tempat lain untuk memanfaatkan demi kebersamaan," jelasnya.

    Secara tegas Emil menyatakan pihak Pemkot tidak berorientasi untuk mencari untung dalam pengelolaan Gedung BCH. Sekalipun ada biaya yang harus dibayar, menurutnya hal itu bersifat sebagai pengganti bahan baku penunjang.

    "Ada beberapa fasilitas gratis ada yang mungkin berbayar misalnya sewa komputer atau printer kan tintanya bayar kan itu. Intinya kami tidak mau mencari profit tapi lebih kepada memberikan kemudahan saja,"‎‎‎ cetusnya.

    Diutarakan Emil, pembangunan gedung yang memakan dana sekitar 40 milyar ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi warga Kota Bandung untuk melakukan proses kreatif.‎ Sebab, dari hasil pengamatannya, individu ataupun komunitas kreatif di Kota Bandung ini kesulitan mencari sarana dan prasana untuk menunjang kegiatanya.

    "Kereatifitas itu jangan liat produk akhir tapi proses penting. Dulu mencari tempat untuk berproses susah . Sekarang kami mudahkan sehingga berproses ada berhasil dan gagal tapi biasanya akan menghasilkan karya yang tidak kita duga,"‎ ujarnya.

    Emil menjelaskan perihal molornya waktu pembangunan Gedung BCH ini tidak terlepas dari proses yang ditempuh oleh pemkot. Dimana, pihaknya selalu membangun tempat secara bertahap.

    "Kan proyek Pemkot memang seperti itu, pertama adalah bangunan luarnya, kemudian beli barangnya. Kalau kita bangun rumah sakit juga begitu, tahun pertama gedung dulu, tahun kedua kedua pembelian alat-alatnya kesehtan. Proyek Pemkot rata-rata untuk berfungsi dua tahun, tahun pertama infrastruktur bangunan tahun kedua interior dan isinya,"‎ terangnya.

    ‎Meski begitu, Emil tak memungkiri apabil sebetulnya pembuatan Gedung BCH ini belumlah sempurna. Sebab, masih ada sejumlah bagian yang harus diperbaiki lagi, terutama di bagian interior.

    ‎"Resmi di jalankan walupun beberapa perlu penyempurnaan. Masih banyak yang perlu diperbaiki interior. Ada hal kecil lah," pungkasnya. [jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT