• Headline

    Dewan Pendidikan Dukung Pencantuman Nomor Telepon di Sekolah untuk Hindari Kekerasan

    Oleh : Rd Dani Rahmat Nugraha17 Maret 2018 08:20

    INILAH, Bandung- Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung menyambut baik imbauan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan agar semua sekolah memasang plang Sekolah Ramah Anak yang di dalamnya mencantumkan tiga nomor telepon penting.

    Itu agar seluruh siswa bisa menghubungi nomor tersebut jika terjadi kekerarasan. Dewan Pendidikan juga mengharapkan, agar pemahaman ramah anak ini tidak hanya sekadar di lingkungan sekolah, namun juga harus didukung oleh orang tua dan lingkungannya.

    Wakil Sekertaris Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung, Asep Kartika mengatakan, pencantuman nomor telepon yang bisa dihubungi oleh anak ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan di sekolah memang penting.

    Namun selain nomor telepon, hal lain yang sebaiknya dipasang atau disebar di lingkungan sekolah adalah kalimat kalimat motivasi,budi pekerti dan ajakan untuk selalu berbuat kebaikan. Dengan semakin banyaknya ajakan atau slogan yang mengarah kepada pendidikan budi pekerti ini, di jiwa dan hati anak didik akan tertanam nilai nilai kebaikan.

    " Yah nomor telepon penting itu dicantumkan dalam famplet atau poster poster yang berisi kalimat kalimat yang berisi nilai nilai luhur budi pekerti saja, dan itu harus ditempel di banyak tempat di lingkungan sekolah. Dengan banyaknya tulisan yang berisi ajakan kebaikan, ini juga menjadi bagian dari menumbuhkan budaya membaca atau literasi pada anak anak,"kata Asep, Jumat (16/3/18).

    Selain lebih efektif, pemasangan poster atau famplet ini, kata Asep, bertujuan juga untuk menghindari praktik "jual dedet" dari oknum pelaku usaha pembuatan plang. Karena biasanya, ketika muncul suatu imbauan atau arahan yang memungkinkan untuk pengadaan suatu barang di sekolah. Selalu dimanfaatkan oleh para oknum pelaku usaha.

    Asep melanjutkan, pengertian sekolah ramah anak juga, tidak akan ada artinya jika tidak didukung oleh lingkungan di luar sekolah. Terutama adalah dukungan kedua orang tua anak didiknya. Kata dia, pengertian ramah anak saat ini terkesan membatasi para pendidik di sekolah untuk mengajari anak didiknya untuk berperilaku disiplin, menghormati guru, taat pelaturan dan sebagainya. Bahkan tak jarang zaman sekarang ini ketika ada guru yang memberikan hukuman dengan tujuan mendidik malah tersandung kasus hukum karena dipandang melanggar Hak Azasi Manusia (HAM), kemudian juga dianggap melakukan kekerasan kepada anak.


    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT