• Headline

    Sidang Kasus Suap KBB, Mantan Sekda Akui Terima Uang Rp260 Juta

    Oleh : Ahmad Sayuti11 Juli 2018 19:50

    INILAH, Cimahi- Mantan Sekda Kabupaten Bandung Maman S Sunjaya mengaku telah mengembalikan Rp 260 juta kepada Kepala Indag KBB Weti Lembanawati. Uang tersebut diduga hasil pengumpulan dari beberapa SKPD untuk mendukung pasangan Elin Suharliah- Maman S Sunjaya (Emas) di Pilbup KBB 2018.

    Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan suap terhadap mantan Bupati Bandung Barat Abu Bakar, dengan terdakwa mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) KBB, Asep Hikayat.

    Sidang yang dipimpin M Fuad berlangsung di ruang satu Pengadilan Tipikor pada PN Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (11/7/2018).

    Dalam sidang agenda kesaksian, tim JPU KPK menghadirkan lima orang saksi. Yakni, Elin Suharliah (istri Abu Bakar), Maman S Sunjaya, Ketua KPU KBB Iing Nurdin, pegawi BKPSDM Yusep, dan Wempie dari PT Indopoling Network.

    Dalam keterangannya yang berbelit-belit, Maman terus dicecar berbagai pertanyaan oleh tim JPU KPK hingga majelis hakim. Setiap kali ditanya, Maman kebanyakan menjawab tidak tahu dan lupa lagi.

    "Apakah saudara pernah menerima uang suap?" tanya JPU KPK.

    Maman pun mengakuinya. Namun, lagi-lagi dia mengaku lupa dari siapa uang tersebut diterimanya. Kemudian uang tersebut dikembalikannya ke mantan Kepala Indag Weti Lembanawati.

    "Saya pernah menerima uang, dari siapanya saya lupa. Tapi kalau tidak salah dari Weti. Sekitar Rp 260 juta," katanya.

    Tidak hanya itu Maman pun tidak mengetahui maksud orang yang memberikan uang itu. Tapi kemungkinan uang yang diterimanya merupakan uang yang terkumpul dari SKPD. Makanya, keesokan harinya dia kembalikan lagi uang tersebut.

    Jaksa KPK kemudian menanyakan, apakah uang itu yang disebut sebagai "dana gotong royong" dari SKPD untuk menyokong amunisi Elin-Maman S Sunjaya (Emas) bertarung di Pilkada 2018. Maman pun langsung membantahnya.

    "Bukan (dana gotong royong). Tapi katanya itu cuma bentuk perhatian saja," ujarnya.

    JPU KPK pun terus menanyakan soal uang yang dikembalikan ke Weti, sementara Maman tidak mengetahui uang tersebut dari siapa.

    "Karena dia (Weti) bendahara di KBB. Saya merasa seakan-akan Weti yang serahkan. Kejadiannya saya lupa lagi," ujarnya.

    Selain itu, Maman pun mengaku jika Weti sempat menyampaikan kepadanya ada uang yang terkumpul dari beberapa SKPD. Tapi karena dirinya tidak tahu, makanya setelah diterima uang tersebut langsung dikembalikan keesokan harinya.

    "Saya kalau dikasih uang ingat Pak! Kalau ngeluarin uang saya lupa," ungkap JPU KPK menyikapi jawaban Maman yang berbelit-belit.

    Dalam sidang, jaksa KPK menduga uang yang diserahkan kepada Maman memang berasal dari sejumlah SPKD di lingkungan Pemkab Bandung Barat. Jaksa juga sempat menyinggung soal sejumlah pertemuan di rumah dinas Sekda, bersama dengan Bupati Abubakar dan pejabat SPKD. Rapat diduga membicarakan soal suksesi pencalonan Elin-Maman.

    Saat hal itu ditanyakan kepada Maman maupun Elin, keduanya membantah. Maman bahkan mengaku lupa pernah terlibat hadir dalam pertemuan itu meski digelar di rumah dinasnya.

    "Saya lupa Pak, mohon maaf. Ini karena saya pernah sakit stroke tahun 2014. Bahkan nama keponakan saya sendiri juga lupa," akunya polos.

    Selain pertemuan di rumah dinas Sekda, jaksa KPK juga mengungkap sejumlah pertemuan lainnya yang diduga menggalang "kekuatan" untuk memenangkan pasangan Elin-Maman sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat periode 2018-2023. Salah satu pertemuan digelar di sebuah hotel di Kota Bandung.

    Sementara itu, Ketua KPU KBB Iing Nurdin dalam kesaksiannya mengungkap soal laporan keuangan dari lembaga survei yang bekerjasama dengan tim pasangan Emas.

    Menurutnya, dari catatan yang ada, tim hanya melapor pernah melakukan pembayaran sebanyak tiga kali, yaitu pada 25 April 2018 sebesar Rp 50 juta, 26 April 2018 Rp 50 juta dan pada 13 Mei 2018 sebesar Rp 25 juta.

    Sementara itu Ketua Majelis M Fuad merasa semua jawaban yang diberikan Maman tidak masuk akal. Dia pun menegaskan akan mengkonfrontir keterangannya dengan saksi-saksi lain yang nanti bakal hadir di persidangan.

    "Jika keterangan para saksi berbeda. Maka keterangan yang Anda sebutkan hari ini semua berarti bohong," ujarnya. Sidang pun ditunda pekan depan dengan agenda kesaksian.

    Kasus suap di KBB ini selain menjerat Asep Hikayat yang kini sudah menjalani proses persidangan, juga melibatkan mantan Bupati Bandung Barat, Abubakar, Kepala Indag Weti Lembanawati dan Kepala Bappeda Adyoto. Tiga nama terakhir masih menjalani pemeriksaan di KPK.

    Dalam sidang sebelumnya, Asep Hikayat didakwa telah memberikan suap kepada mantan Bupati Bandung Barat Abu Bakar senilai Rp 110 juta.

    Dalam dakwaan uang tersebut diberikan merupakan bagian partisipasi iuran sejumlah uang dari Kepala Dinas/ SKPD guna kepentingan pencalonan Elin Suharliah istri H.Abu Bakar Bupati KBB dalam Pilkada Bupati KBB tahun 2018 - 2023.

    Akibat perbuatannya terdakwa dijerat dan diancam Tim Penuntut Umum KPK diantaranya. Trimulyono Hendradi dan Budi Nugraha, dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Kedua Pasal 13 UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK jo. UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT