• Warga Butuh KRL Parungpanjang-Citayam

    Oleh : Rishad Noviansyah26 September 2018 17:30
    fotografer: Inilah/Rishad Noviansyah
    INILAH, Bogor - Masyarakat Kecamatan Parungpanjang sangat berharap KRL Commuterline trase Parungpanjang-Citayam direalisasikan. Pasalnya, mereka kesulitan menjangkau pusat pemerintahan Kabupaten Bogor yang terlalu jauh.

    "Kereta akan memudahkan kita untuk menyelesaikan urusan administrasi. Seperti bikin SIM kan harus ke Polres Bogor nah itu adanya di Cibinong, dari Parungpanjang jauh. Belum lagi harus bolak balik kalau enggak lulus tesnya," kata Ade, warga Parungpanjang, Rabu (26/9/2018).

    Sekcam Parungpanjang Icang Aliudin berpendapat sama. Menurutnya, dengan kondisi akses jalan terdekat menuju Cibinong dalam keadaan rusak akibat truk pengangut tambang membuat waktu masyarakat kian tersita. Kereta api dianggap bisa menjadi solusi.

    "Kalau ada kereta yang nyambung ke arah sana (Cibinong) lebih mudah. Bisa saja dengan kendaraan biasa motor misalnya, tapi jalanna rusak. Kalau mau jalan mulus, musti memutar lewat Tangerang," kata dia.

    Dia pun mendukung dan menantikan adanya trase KRL menuju Citayam. "Tapi enggak tahu kapan realisasinya. Mungkin 20 tahun lagi," katanya.

    Pemerintah Kabupaten Bogor pun telah menyiapkan lahan yang mungkin akan dibebaskan Dirjen Perkeretaapian, lewat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

    "Double track Citayam-Parungpanjang masuk prioritas RITJ (Rencana Induk Transportasi Jabodetabek). Tinggal implementasi dari Dirjen Perkeretaapian," ungkap Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Ajat Rohmat Jatnika.

    Dia menjelaskan, pembangunan jalur Commuterline Citayam-Parungpanjang sebagai jawaban atas banyaknya permintaan masyarakat. Selain itu, moda transportasi berbasis massal tengah digandrungi belakangan ini.

    Menurutnya, mulai Stasiun Parungpanjang hingga Nambo akan menjadi commuterline double track sebagai sarana transportasi masyarakat.

    "Dengan saat ini satu jalur saja, ritme lalu lalangnya bisa sampai enam kali sehari. Berarti memang itu sudah menjadi moda utama yang dipakai masyarakat. Untuk kawasan perkotaan, transportasi berbasis massal menjadi unggulan dan ini menjadi perhatian pemerintah pusat," tegasnya.

    Sayangnya, Ajat tidak bisa memastikan kapan pembangunan jalur dan stasiun itu dimulai. "Kami hanya menyiapkan lahan-lahan yang mungkin akan dibebaskan untuk pembangunan relnya. Sudah diplot dalam RTRW agar tidak ada izin pembangunan keluar di lahan-lahan itu," jelas Ajat.

    Jika menggunakan kereta, waktu tempuh dari wilayah Kecamatan Parungpanjang ke Citayam, bisa hemat hingga 1 jam dengan bentangan rel mencapai 35 kilometer. "Jadi kita tunggu saja pusat mengerjakannya. Karena mulai pembebasan lahan hingga pembangunan fisiknya dilakukan Kementerian Perhubungan," ujar Ajat.

    Lahan-lahan yang dipagari dalam RTRW itu meliputi Desa Dangdang, Desa Sukamulya di Kecamatan Parungpanjang. Kemudian Gunungsindur, Desa Waru Jaya, Desa Pamagarsari, Desa Sasakpanjang dan Pabuaran.

    "Kalau untuk luasan-luasan, PT KAI yang memastikan. Tapi, kami sudah pagari. Dalam RTRW desa-desa yang bakal jadi lintasan kami tidak izinkan untuk alih fungsi yang lain," jelas Ajat.

    Kondisi lokasi yang bakal jadi lintasan kereta, kata dia, masih berupa ladang sawah atau perkebunan dan sebagian pemukiman penduduk. Sehingga, konsultan perencana mengusulkan tiga alternatif trase sebagai perlintasan kereta.

    Dia menjelaskan, alternatif pertama berawal dari Stasiun Parungpanjang melewati Desa Dangdang, Desa Sukamulya, Gunungsindur, Desa Warujaya, Desa Pamagarsari, Desa Sasakpanjang dan berakhir di Desa Pabuaran tepatnya di persilangan dengan jalur kereta Jakarta-Bogor.

    "Di sebelah selatan Stasiun Citayam arah Bogor menuju Stasiun Nambo, rencana akan dibuat overpass dan shelter nantinya," terang Ajat.

    Kemudian, alternatif kedua, berawal dari Stasiun Parungpanjang dan Stasiun Cicayur menelusuri Desa Suradita-Sungai Cisadane-Padurenan-Parung-Duren Seribu berakhir di selatan Stasiun Citayam arah Bogor menuju Nambo.

    Sementara alternatif ketiga, berawal dari Stasiun Cicayur melewati Desa Suradita-Sungai Cisadane-Gunungsindur-Padurenan-Parung-Duren Seribu berakhir di selatan Stasiun Citayam arah Bogor menuju Nambo.

    "Jadi nyambung dari Parungpanjang, Citayam, Cibinong, Nambo, Cileungsi, Jonggol, Cikarang sampai Priok. Bisa hemat waktu sampai satu jam termasuk kereta barang," ungkapnya. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT