• Menristekdikti Hibahkan Mesin Formulasi Air ke Ponpes Mamba'ul Ma'arif Jombang

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar11 Juni 2017 23:47
    INILAH, Jombang - Air adalah sumber kehidupan semua umat manusia. Rasanya agak sulit untuk memisahkan manusia dari air, karena tanpanya apa-apa akan terasa sulit dan menyulitkan.

    Air pun bisa menjadi mata penghidupan yang berpotensi ekonomi sangat besar bagi manusia. Meski sejatinya berjualan air adalah termasuk terkadang dalam agama Islam - karena air adalah sumber hajat hidup orang banyak - namun bukan berarti bisnis distribusinya tidak halal.

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berharap umat Islam dapat ditingkatkan taraf ekonominya dengan memanfaatkan distribusi air yang sehat dan bermanfaat bagi semua orang.

    Berkunjung ke Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Kecamatan Den Anyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Nasir menengok implementasi teknologi pendidikan tinggi di sana.

    Di sana, Kemristekdikti menghibahkan bantuan mesin air yang dapat mengubah formulasi air baku menjadi air mineral, bahkan air hasil dari reverse osmosis (RO) yang melalui metode penyaringan molekul-molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika itu berada di salah satu sisi membran seleksi.

    "Air RO ini insya Allah dapat membantu menyembuhkan penyakit ginjal dan diabetes. Makanya air yang kita produksi dibagi menjadi dua, yaitu mineral dan RO untuk mengurangi beban kerja ginjal dan pankreas dalam menyaring mineral," kata Nasir di Jombang, Minggu (11/6).

    "Tapi, masyarakat jangan kaget karena rasa air ini agak berbeda dengan air mineral biasa. Agak asam rasanya dan harganya bisa mencapai tiga kali lipat dari air biasa," tambah Nasir.

    Nasir berharap, distribusi air tersebut dapat tersalurkan minimal di kawasan Jombang. Sehingga keuntungannya nanti dapat digunakan lagi untuk menjadi modal bisnis yang baru pesantren.

    Dia mencontohkan, sudah ada beberapa pesantren yang berhasil membangun bisnis di samping mengajarkan ilmu keagamaan seperti berjualan donat atau bakso.

    Untuk penerapan teknologi, katanya, pemerintah siap memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan dan bisnis yang akan ditemui pesantren.

    "Seperti ada mesin pembuat bakso atau adonan donat, nanti supaya produksinya bisa banyak. Harapan kami, kualitasnya nanti akan sebaik beras Rojo Lele yang juga merupakan binaan kami," kata Nasir.

    Setelah pesantren berhasil memproduksi olahan, kementerian tidak lantas diam. Mereka akan terus dibina dan diperbantukan untuk mendapatkan sertifikasi agar legal beredar di pasaran, seperti sertifikasi dari BPOM, Sri, dan kehalalan LPOM MUI.

    Sementara, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe mengatakan, teknologi sangat bermanfaat bagi manusia jika dimanfaatkan dengan benar.

    Pada tahun 2017 ada 400 perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) yang mendapatkan bantuan dari pemerintah dan ditargetkan tahun depan bertambah menjadi 900.

    "Di antara ratusan perusahaan pemula itu, sebanyak 20% merupakan pesantren.Tujuannya supaya dapat bermanfaat tidak hanya untuk pesantren tetapi juga untuk masyarakat," ujar Jumain.

    "Inovasi tidak hanya air, tapi banyak yang bisa digunakan untuk mendorong ekonomi umat. Semua dilakukan untuk mendorong kebangkitan ekonomi umat Islam," pungkasnya. [jek]



meikarta.. the world of ours