• Loyalitas Tanpa Batas

    Oleh : Inilahkoran24 November 2017 15:00
    PENGABDIANNYA kepada dunia pendidikan begitu tinggi. Tak kenal lelah, pantang menyerah, memiliki semangat tinggi, nyaris tanpa batas. Itulah Nenden Marliah. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu guru PAUD Ummi, Kabupaten Garut.

    Sejak 1991 lalu, Nenden sudah mulai berkecimpung di dunia pendidikan. Keputusan ini ia ambil karena memang cinta terhadap profesi guru. Tidak hanya itu, ia juga ingin bermanfaat bagi orang-orang sekelilingnya.
    Proses belajar-mengajar, bagi dia, sudah seperti makanan sehari-harinya. Tengoklah, sedari pagi sebelum matahari terbit, ia sudah bersiap-siap untuk mengawali aktivitasnya. Segudang aktivitas sudah menunggunya di depan mata.
    Pukul tujuh pagi, ia harus berangkat menuju TK Daarul Falaah Maripari untuk mengajar anak-anak didiknya. Usai mengajar di tempat tersebut, tak lama kemudian, Nenden harus bergegas dan berangkat menuju PAUD Ummi. Dengan penuh kasih sayang dan cinta, di TK itu, ia membekali anak-anak didiknya penuh dengan kreatifitas dan keterampilan.
    Setelah memberikan ilmunya ke anak-anak PAUD Ummi, menjelang siang, Nenden harus melangkahkan kakinya menuju SMP Yaspri. Di sekolah itu ia mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
    Tak hanya sampai di situ, menjelang sore hari, tanpa rasa lelah, Nenden harus mengajar anak-anak di Madrasah Ummi. Aktivitas yang sangat padat ini ia lakukan dengan tulus, ikhlas, dan cinta.
    Kendati sibuk dengan sederet aktivitasnya, semangat Nenden seolah tak pernah luntur.
    Ia tetap semangat meskipun jika berbicara mengenai materi masih jauh dari batas normal.
    “Semangat terus. Tidak pantang menyerah. Kita harus bekerja keras demi mencerdaskan anak-anak bangsa yang lebih gemilang dan berakhlakul karimah,” kata salah satu nominasi Een Sukaesih Award 2017 ini kepada INILAH.
    Sebagai seorang guru PAUD, Nenden memiliki caranya sendiri. Ia menekankan kepada anak didiknya yang pertama adalah keterampilan. Bagaimana anak seusia PAUD atau TK, mereka memiliki keterampilan yang baik.
    Sebagai contoh, anak dididik untuk membuat sebuah kaligrafi. Menulis huruf Arab atau asmaul husna, baca tulis berikut hafalan Alquran atau juz amma, bacaan dan praktik salat dan lainnya.
    “Alhamdulillah, dampaknya cukup bagus. Sekarang anak-anak sudah mulai kreatif, bahkan mayoritas mereka juga sudah tahu tentang huruh Alquran,” ujarnya.
    Sebagai seorang guru, Nenden merasa bangga. Pasalnya, ilmu yang ia miliki bisa dibagikan kepada banyak orang dan diharapkan bisa bermanfaat bagi anak-anak didiknya.
    “Alhamdulillah, meskipun aktivitas saya padat, saya bisa membagi waktunya dengan baik. Aktivitas saya dari Senin sampai Sabtu,” imbuhnya.
    Soal Een Sukaesih, Nenden mengaku sangat terinspirasi dengan kegigihan guru qolbu tersebut. Baginya, Een merupakan sosok hebat dalam dunia pendidikan. Ia tetap semangat dalam hal mengajar meskipun kondisinya sedang sakit.
    “Beliau itu semangatnya luar biasa. Bu Een itu inspirasi bagi semua guru. Pokoknya saya salut sekali sama beliau,” ucapnya.
    Ke depannya dia berharap, selama menjadi guru, dirinya akan memberikan yang terbaik bagi siswa-siswinya. Tidak pantang menyerah dan selalu ikhlas dalam menjalani profesi yang mulia ini.
    “Saya akan menjadi guru selama hidup saya. Mudah-mudahan Allah memberikan saya kesehatan, ilmu yang lebih baik untuk mendidik anak-anak kami,” tanbahnya. (ing)


    TAG :


    Berita TERKAIT