• Pohon Literasi dan Smartphone

    Oleh : Reza Zurifwan28 November 2017 15:08
    ADA juga orang tua tak suka terhadapnya. Itu gara-gara dia melarang mereka memegang smartphone saat putera mereka belajar di malam hari.

    Selain selalu mengajar dengan hati, sabar, dia juga pandai menyelipkan nilai-nilai karakter dalam setiap pelajaran dan sosok kreatif dalam mengemas pembelajaran menjadi menyenangkan. Sosok Histato Dayanto Kobasah, guru kelas IVB SDN Dewi Sartika, Kota Sukabumi, selalu mau belajar untuk berupaya menyempurnakan ilmunya sebagai guru.
    “Saya selalu semangat dalam belajar karena guru itu harus terus berkembang. Terlebih SDN Dewi Sartika adalah sekolah rujukan atau unggulan di Kota Sukabumi hingga tuntutan untuk menghasilkan siswa paling berprestasi itu menjadi motivasi saya dalam tugas mengajar,” ujar Histato kepada INILAH, beberapa waktu lalu.
    Selain menularkan semangat belajar, kepada para siswa, ayah satu putra ini juga menularkan semangat juara kepada anak didiknya. Caranya? Ya, dengan memberikan contoh.
    “Saya juga menularkan semangat juara dengan memberikan contoh langsung bahwa gurunya juga juara menulis di beberapa event di tingkat Jawa Barat. Kepada para siswa ini, saya mulai menggali minat dan bakat mereka,” sambungnya.
    Banyak upaya yang dilakukan oleh alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini dalam menggali minat dan bakat para siswa. Dia, misalnya, memberikan banyak literatur buku, koran ataupun lainnya.
    “Saya minta para siswa untuk rajin membaca 10 hingga 15 menit perhari, baik buku pelajaran, buku sesuai minatnya maupun koran. Di kelas saya pun membuat rak talang buku dan pohon literasi. Hal ini sesuai kurikulum 2013 yang mewajibkan kita untuk improvisasi dalam mengajar,” terang Histato.
    Usai siswa membaca buku, ia juga meminta siswanya membuat review atau kesimpulan hasil kegiatan bacaan buku tersebut. Hasil review itulah yang ditempel di pohon literasi.
    “Setiap anak punya pohon literasi dan dengan adanya pohon ini para siswa semakin semangat untuk membaca buku. Dengan banyak membaca buku maupun koran, anak selain pintar juga semakin kritis akan lingkungannya. Kegiatan literasi ini sangat bermanfaat. Ada dua murid saya yang karya ilmiahnya pernah diterbitkan di surat kabar harian lokal,” jelasnya.
    Agar siswa lebih berkembang kepandaiannya, Histato meminta orang tua lebih peduli akan kegiatan anak-anaknya di sore atau malam hari.
    “Di kelas saya, banyak anak yang kedua orang tuanya bekerja dan kepada mereka saya mengimbau agar mereka menyempatkan waktu untuk menemani anaknya belajar. Kalau bisa, dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB mereka tak memegang smartphonenya agar lebih fokus,” lanjut anak bungsu dari lima bersaudara ini.
    Histato menceritakan dengan banyaknya kegiatan siswa, ada orang tua yang senang diajar olehnya dan juga ada yang tidak. “Kalau siswa, semua senang kalau diajar oleh saya. Sebab, kegiatan belajar-mengajar berjalan dinamis. Kalau orang tua, selain ada yang senang, ternyata ada yang kurang senang karena anak diberikan banyak tugas dan orang tua dilarang anaknya menggunakan smartphone ketika menemani anaknya belajar,” pungkasnya. (ing)


    TAG :


    Berita TERKAIT