• Cinta, Ikhlas, Tulus, dan Yakin

    Oleh : Okky Adiana27 November 2017 15:17
    BAGI Sri Aminah, guru merupakan profesi yang mulia, pahlawan tanpa tanda jasa. Itu sebabnya mengapa ia memutuskan untuk menjadi seorang pendidik. Ia ingin hidupnya bermanfat bagi orang lain.

    Panggilan hati. Ya, itu alasan mengapa guru Sri mendedikasikan separuh hidupnya di dunia pendidikan. Salah satu nominator Een Sukaesih Award 2017 ini, kini tercatat sebagai Kepala SLB-B Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB), Kabupaten Majalengka.
    Di dalam hidupnya, ia ingin mengabdi kepada anak-anak yang selama ini termarjinalkan di masyarakat. Sri ingin merubah pola pikir masyarakat yang selama ini memandang bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) itu tidak bisa apa-apa.
    Padahal, kata dia, jika seorang guru mau sedikit kreatif, ia bisa menggali potensi yang ada di dalam diri setiap ABK. Siswa ABK, lanjut dia, sebetulnya memiliki kelebihan yang luar biasa. Hanya saja pertanyaannya bagaimana cara menggali potensi yang ada di dalam diri anak-anak tersebut. Cinta, ikhlas, tulus dan yakin adalah kunci utamanya.
    Hal inilah yang terus ia kembangkan kepada peserta didiknya. Kendati tak mudah, tanpa rasa lelah, Sri bersama guru-guru lainnya, terus berupaya untuk menggali potensi yang ada di dalam diri anak-anaknya ini.
    “Saya tahu menjadi guru SLB itu tidak mudah. Ini panggilan hati. Allah memberikan saya untuk berkiprah di dunia pendidikan, khususnya SLB. Pengabdian apa sih yang akan kita bawa ke akhirat nanti. Saya mengajar anak-anak ini dengan cinta, keikhlasan, dan tulus. Itu modal utama kita,” kata Sri kepada INILAH di SLB-B YPLB, Jalan Emen Slamet 70, Majalengka.
    Lantas potensi apa saja yang dikembangkan Sri? Tengoklah, sebagai seorang guru yang sekaligus menjabat sebagai kepala SLB-B YPLB, Kabupaten Majalengka, Sri menggali potensi anak didiknya mulai dari bidang seni seumpama pantomim, menari, dan lainnya.
    Tidak hanya sampai di situ, ia juga berusaha untuk mengembangkan potensi lainnya, khususnya di bidang kewirausahaan. Ini dilakukan agar setelah mereka lulus dari sekolahnya, anak-anak ini bisa hidup secara mandiri tanpa ketergantungan terhadap orang lain.
    Beberapa hal yang ia kembangkan ialah mulai dari tata boga, tata kriya, bengkel, menjahit, merias wajah, sampai dengan break dance.
    “Ternyata setelah kita gali potensinya, anak-anak ini memiliki lebih dari dua talenta. Ada yang lima sampai enam, bahkan 10 talenta. Kuncinya, bagaimana kita sebagai guru harus bisa menggali potensi anak-anak kita, ya itu dengan cinta kasih,” paparnya.
    Kegigihan dan ketulusan cinta yang ia berikan kepada peserta didiknya, rupanya membuahkan hasil. Sri menciptakan lapangan pekerjaan bagi ABK, salah satunya adalah mendirikan bengkel/cuci motor. Selain itu, ia juga menyalurkan bakat siswanya membuat produk-produk makanan seperti, telur asin ABK, aneka kue kering, kue basah, ranggining, dan lainnya.
    Hasil produk makanan ini ia kenalkan kepada masyarakat umum yang ada di Kabupaten Majalengka. Misalnya dalam acara pameran atau acara lainnya. Mereka menjajakan makanan hasil dari karyanya sendiri. Bahkan siswa yang memiliki bakat di bidang seni, mereka diberi kesempatan untuk tampil, dan tanpa dibayar biaya sepeserpun.
    Melalui cara pengenalan karya seperti ini, sedikit demi sedikit pola pikir masyarakat yang awalnya menganggap bahwa ABK itu tidak bisa apa-apa, akhirnya masyarakat mulai mengakui keberadaannya, menghargai, dan meningkatnya rasa percaya orang tua kepada sekolah tersebut.
    “Saya selalu mengingatkan kepada anak-anak, jangan dulu cari uang, tapi prestasi apa yang kita miliki harus ditonjolkan. Selain kepada anak-anak, saya juga menanamkan jiwa kewirausahaan ini kepada guru, orang tua siswa dan masyarakat,” imbuhnya.
    Terkait Een Sukaesih, dia mengaku bangga terhadap sosok guru tersebut. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan luar biasa. Kendati sakit, Een masih peduli dan memiliki semangat tinggi dalam hak mengajar anak didik sampai akhir hayatnya.
    Guru Een, lanjut dia, memberikan kebermanfaatan bagi orang-orang sekelilingnya. Dia adalah seorang guru yang patut ditiru dan dijadikan teladan bagi semua orang.
    “Saya salut dan bangga sama beliau. Yang saya ambil dari Bu Een jiwa pengabdiannya, pantang menyerah. Tidak pernah padam untuk menyalakan api pendidikan dan itu menjadi semangat saya,” pungkasnya. (ing)


    TAG :


    Berita TERKAIT