• Headline

    Kualitas Publikasi Ilmiah Indonesia Masih Kurang Berbobot

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar11 Mei 2018 18:07

    INILAH, Jakarta - Publikasi ilmiah hasil penulisan para peneliti masih memiliki kelemahan meskipun jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, ada dua kondisi yang menjadi sumber kelemahan para peneliti Indonesia.

    Pertama, Ghufron menjelaskan, publikasi ilmiah yang dihasilkan lemah dari segi inovasi atau kebaruan meskipun isinya berbobot. Kedua lebih buruk lagi yaitu tidak berbobot dan tidak baru. Padahal dari segi kuantitas jumlahnya masih lebih banyak daripada Singapura.

    "Kalau orang mau menuliskan dan dipublikasikan dengan gampang itu harus berbobot dan ada sesuatu yang baru," kata Ghufron kepada wartawan ditemui di Jakarta, Jumat (11/5).

    Kemenristekdikti telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah jurnal ilmiah yang ditulis para dosen. Pada akhir 2017, Indonesia telah melampaui Thailand, dengan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia mencapai angka 18.500 jurnal.

    Untuk menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas, kata Ghufron, harus dimulai dengan pemilihan cara dan metodologi yang tepat terlebih dahulu. Konsep, kerangka berpikir, hipotesis, pengumpulan data yang kemudian dianalisis, dan dari situlah baru ditarik kesimpulan.

    Dia yakin, jika cara penelitian yang dilakukan berkualitas maka hasilnya dapat dipercaya. Kemudian setelah itu baru bisa didiskusikan tentang apa yang ditulis ataupun isi dan temuannya.

    Menurut Ghufron, para peneliti di Indonesia masih memiliki kelemahan jika dihadapkan pada tuntutan menulis secara saintifik. Menurutnya sangat jarang peneliti yang memiliki kemampuan ini dan juga harus membutuhkan kapasitas tertentu.

    Salah satu kelemahan para peneliti di tanah air juga termasuk kemampuan dalam skill menulis secara saintifik. Skillini membutuhkan kapasitas tertentu, dan jarang dimiliki oleh para peneliti di Indonesia.

    "Tidak semua orang paham cara menulis sains. Untuk itu, Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Nottingham, Inggris menggelar seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas penelitian Indonesia," ujar Ghufron.

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT