• Headline

    Tidak Semua Sekolah Terapkan Jalur Akademik

    Oleh : Okky Adiana11 Juli 2018 11:02
    Demo PPDB
    INILAH, Bandung - Tahun ini Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Bandung menerapkan dan mengadopsi kebijakan pemerintah pusat.

    Hal ini tentu saja berdasarkan Permendikbud Nomor 14/2018 tentang aturan zonasi sebagai penegasan dari permendikbud sebelumya. Ada beberapa poin perubahan dalam mekanisme PPDB di tahun ajaran 2018/2019.

    "Hal ini tentunya turut berdampak kepada masyarakat, dimana masyoritasnya masih berpikir pelaksanaan PPDB tahun ini sama dengan tahun kemarin. Ini mungkin karena ketidaksiapan warga atau kurangnya informasi yang menyebar dan diterima para orangtua," kata Sekretaris Disdik Kota Bandung, Mia Rumiasari.

    Dia mengatakan, perbedaan PPDB tahun ini dan sebelumnya memang cukup signifikan. Karena tahun ini, sesuai amanat Permendikbud, pemerintah wajib menerapkan sistem zonasi 90 persen, 5 persen prestasi, dan 5 persen jalur khusus.

    "Untuk sistem zonasi di Kota Bandung, sebenarnya kita tidak terapkan murni 90 persen di semua sekolah, karena adanya beberapa sekolah yang masih mencoba memunculkan jalur akademik, seperti lima SMP Negeri yang ada di tengah kota dan jauh dari kawasan permukiman padat penduduk," ucapnya.

    Dia mengakui keluhan dan kekecewaan muncul dari para orangtua calon peserta didik yang merasa dirugikan dengan sistem ini. Karena hanya lima sekolah yang menerapkan jalur akademik, yakni SMPN 2, SMPN 5, SMPN 7, SMPN 14, dan SMPN 44 Bandung.

    Sementara untuk sekolah SMP lainnya menggunakan sistem zonasi, sedangkan untuk SD menggunakan kriteria usia.

    Disinggung munculnya kasus siswa dengan NEM tinggi namun jarak rumahnya yang tidak terlalu dekat dengan sekolah tidak diterima, namun siswa dengan NEM rendah tapi dengan jarak lebih dekat malah diprioritaskan. Menurutnya dengan sistem zonasi maka yang diutamakan adalah penilaian kedekatan jarak yang juga diberlalukan sama dengan siswa lainnya.

    "Ketika kondisi jarak sudah ada kesamaan tapi masih belum ada titik temu, maka persaingan berdasarkan nilai akademik baru dilakukan," katanya.

    Sementara itu, untuk nama yang tiba-tiba hilang dari sistem online PPDB yang sebelumnya ada, lanjutnya, hal tersebut karena data yang paling valid yakni pada Senin (9/7) pukul 14.00 WIB.

    Sedangkan data sebelumnya merupakan data yang belum dilakukan verifikasi dan validasi, proses tersebut dilakukan selama 12 jam sebelum jadwal pengumuman tersebut.

    Kendati demikian, pihaknya sudah menerima sejumlah perwakilan orang tua siswa yang mengadukan persoalan terkait sistem zonasi. Hasil dari audiensi tersebut membuat satu kesepakatan, PPDB tahun 2018 ini sudah tutup sejak senin kemarin pada pukul 14.00 WIB.

    Lebih jauh pihaknya akan menindaklanjuti beberapa pengaduan, seperti terkait kesulitan sistem zonasi yang tidak mempertimbangkan nilai akademik.

    "Ini akan menjadi evaluasi kami untuk menggelar PPDB tahun depan, kita juga sebagai pemerintah daerah tidak bisa kontra produktif dengan kebijakan aturan pemerintah pusat," tambahnya. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT