• Era Digital, SDM Programmer Malah Minim

    Oleh : Doni Ramdhani25 September 2017 20:26
    INILAH, Bandung - Masifnya gelombang teknologi digital saat ini merupakan peluang bagi seorang programmer. Terlebih, kini sumber daya manusia itu terbilang relatif langka.

    CEO Refactory.id Taufan Aditya mengatakan, saat dunia digital tak bisa dibendung itu programmer merupakan profesi yang relatif paling banyak dicari. Permintaan pasar pun meningkat seiring ledakan teknologi digital.

    Menurutnya, Refactory.id merupakan bootcamp bagi mereka yang ingin menjadi seorang programmer profesional. Kehadiran pihaknya kali pertama di Bandung ini pun membuat semacam standarisasi bagi seorang programmer dan coder.

    "Sejauh ini, kita menghasilkan programmer andal dan berkualitas. Refactory.id mematok standarisasi seorang programmer dan coder lulusannya berpenghasilan minimum Rp10 juta/bulan," kata Taufan saat jumpa wartawan, Senin (25/9).

    Penciptaan human resources di bidang teknologi informasi ini menjadi fokus garapan akademi yang kali pertama hadir di Bandung pada Januari lalu. Kualitas lulusan diakuinya menjadi hal utama yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

    Sejak awal 2017, bootcamp ini meluluskan lima angkatan. Setiap angkatan tersebut terdiri dari 10-15 orang. Sebenarnya, Taufan menyebutkan setiap angkatan pihaknya menerima 1.000-1.500 orang pendaftar. Namun, dikarenakan pihaknya fokus di klasifikasi medium hingga senior programmer setiap angkatan itu hanya diambil 10-15 orang.

    "Program kita, kelas digelar lima hari seminggu dengan pengajar lulusan S3 bidang science. Per harinya mereka belajar praktik selama 12 jam selama satu batch atau 12 minggu. Untuk 12 minggu itu kita berikan 70% praktik dengan menggarap proyek sungguhan. Pendaftar harus membayar sekitar Rp30-40 juta. Angka ini terbilang seperempat dari harga bootcamp di Singapura," ucapnya.

    Mengenai saluran, setiap lulusan itu akan diarahkan ke mitra kerja. Sejauh ini, Refactory.id memiliki sembilan partner kerja dimana dua diantaranya merupakan perusahaan asal Amerika Serikat. Sisanya, tujuh perusahaan lokal.

    Selama setahun berjalan, bootcamp ini memiliki hiring rate sebesar 86%. Artinya, mayoritas lulusannya bekerja sebagai programmer. Sebanyak 5-6% lulusan itu lebih memilih sebagai technopreneur atau mendirikan usaha rintisan atau startup.

    Lebih jauh, Taufan mengaku dalam waktu dekat pihaknya melakukan ekspansi bisnis. Setelah Bandung, kota sasaran pertama yakni Yogyakarta. Ke depannya, ekspansi ini menuju Batam dan Bali.

    "Untuk pemerintah, saya melihat Presiden Jokowi aware terhadap industri teknologi digital dengan adanya program Gerakan 1.000 Startup Digital," tambahnya.

    Seperti diketahui, era teknologi informasi digital kini sebuah keniscayaan. Di Indonesia, inisiasi Kibar dan Kementerian Komunikasi dan Informatika mendorong terciptanya 1.000 startup digital.

    Chief Executive Kibar Yansen Kamto mengatakan, rencana besarnya pada 2020 mendatang akan lahir seribu perusahaan rintisan berbasis digital. Untuk itu, pihaknya melakukan pembinaan dan pengembangan para startup.

    "Rangkaian program ini akan dijalankan di 10 kota di Indonesia. Yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, Pontianak, dan Medan," kata Yansen.

    Menurutnya, program ini fokus menciptakan solusi permasalahan dengan memanfaatkan teknologi digital seperti melalui aplikasi mobile, website, dan internet of things (IoT). Dengan potensi digital Indonesia sebanyak 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna smartphone, diharapkan negeri ini menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

    Yansen menyebutkan, setiap peserta akan mendapatkan akses ke pelaku ekosistem startup yaitu akademisi, pebisnis, pemerintah, media, dan komunitas yang memiliki latar belakang beragam keahlian. Dia mewanti-wanti, gerakan ini bukan sebuah kempetisi. Namun merupakan program holistik yang bertujuan untuk problem solving dan memajukan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

    Berdasarkan rumusan yang dipakai, dia meyakini akan ada 2,5% keberhasilan saat menciptakan startup digital. Tahapan yang dilalui membuat startup digital ini dimulai dari iginition, workshop, hackathon, bootcamp, hingga incubation. Di satu kota diharapkan terdapat 8.000 orang pendaftar yang nantinya akan melalui seleksi alam.

    "Dari angka 8.000 orang itu diharapkan ada 200 startup/tahun. Kalau dibagi ke 10 kota, diharapkan ada 20 startup/kota. Jadi kita mendasarkan angka keberhasilan sebesar 2,5%. Ini lebih rendah dari angka global survive yang hanya 9%. Karena program ini berkesinambungan selama lima tahun, jadi lima tahun ke depan bisa tercipta 1.000 startup digital," tuturnya. [jek]