• Headline

    2018, LPE Jabar Diproyeksikan Capai 5,2-5,6%

    Oleh : Doni Ramdhani10 Januari 2018 06:00
    INILAH, Bandung - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar memproyeksikan untuk laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jabar sepanjang 2018 mendatang tetap berada pada kondisi baik. Meski demikian, Kepala KPwBI Jabar Wiwiek Sisto Widayat mengatakan capaiannya tidak secerah rekor 2016 lalu.

    "Mencermati dinamika perekonomian dunia, regional, dan nasional, kami memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi Jabar 2018 nanti berada di range 5,2-5,6%," kata Wiwiek saat jumpa wartawan di Bandung, Selasa (9/1).

    Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong sejumlah aspek. Di antaranya prospek perbaikan ekonomi global dan volume perdagangan. Selain itu, harga komoditas global pun akan meningkatkan pendapatan wilayah yang selanjutnya akan meningkatkan permintaan ekspor antardaerah. Terlebih, sepanjang tahun ini akan ada kelanjutan penyelesaian pembangunan infrastruktur yang menopang perekonomian daerah.

    Dia menegaskan, sejauh ini sektor investasi merupakan sumber pertumbuhan yang relatif kuat. Ini pun didongkrak dengan banyaknya transfer anggaran sosial dari pemerintah pusat seperti dana bantuan operasional sekolah (BOS), dana desa, dan bantuan beras sejahtera (Rastra). Dana stimulus dari pusat tersebut diakuinya relatif besar.

    "Untuk sumber pertumbuhan pada 2018 ini masih bertumpu pada investasi, ekspor, dan recovery konsumsi masyarakat," tambahnya.

    Terkait adanya pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahun ini, Wiwiek mengaku penyelenggaraannya memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, kontribusinya relatif tidak terlalu signifikan.

    "Berkaca dari Pilgub Jabar 2013 lalu, kontribusi Pilkada ini sebenarnya tidak terlalu banyak. Angka kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar hanya sekitar 0,3-0,4%, tidak terlalu besar," ujarnya.

    Meski demikian, dia menuturkan persiapan menjelang Pilkada serentak 2018 ini merupakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2017. Faktor pendorong lainnya yakni meningkatnya belanja pemerintah seiring dengan pencairan dana bantuan sosial dan meningkatnya kegiatan konstruksi proyek infrastruktur. Selain itu, peningkatan konsumsi rumah tangga menjelang hari Natal dan libur akhir tahun.

    Wiwiek menyebutkan, tidak signifikannya pengaruh Pilkada itu karena kegiatan tersebut spreading pada beberapa triwulan. Selain itu, pengaruh itu pun tergantung dari banyaknya dana yang dimiliki calon. Tingkat pengeluaran dari setiap calon gubernur itu angkanya tidak bisa menyaingi angka pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Jabar yang saat ini terhitung di atas Rp3 ribu triliun.

    Mengenai stabilitas keuangan di Jabar, kinerja intermediasi perbankan terpantau terjaga baik. Ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan kredit untuk lokasi proyek di Jabar dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Hingga November 2017 lalu, pertumbuhan kredit tercatat sebesar Rp600,26 triliun. Capaian tersebut memberikan adanya pertumbuhan sebesar 8,96%.

    "Untuk DPK, capaian tahun lalu pun naik 11%. Naiknya DPK ini pun didorong penahanan konsumsi masyarakat," tambahnya.

    Khusus laju inflasi, Wiwiek menyebutkan angkanya berada di atas inflasi nasional sebesar 3,61%. Meski tercatat sebesar 3,63%, inflasi Jabar pada 2017 itu masih berada di bawah range yang ditetapkan pemerintah.

    Sebelumnya, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan meyakini tahun politik 2018 mendatang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Menurutnya, tahun politik itu akan dibarengi belanja politik sebagai sumber pertumbuhan.

    "Saya sendiri yakin pada 2018 nanti pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dari tahun sekarang," ujarnya.

    Pria yang akrab disapa Aher ini pun mengingatkan pada 2018 mendatang terdapat perhelatan Asian Games. Gelaran ini pun diyakini akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang relatif signifikan. [jek]