• Headline

    Alhamdulillah, Jumlah Kasus Difteri Hampir Menghilang

    Oleh : Dini13 Januari 2018 16:01
    INILAH, Bandung - Mencegah terjadinya kembali KLB Difteri di 2018, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menyiapkan vaksin Outbreak Response Immunazation (ORI) sebanyak 19 juta vial untuk memenuhi kebutuhan seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

    "Tahun ini jumlah persedian vaksin ditingkatkan dari yang sebelumnya 15,5 juta vial di 2017, tahun ini mencapai 19 juta vial. Kami juga pastikan anggaran pembelian vaksin kepada Bio Farma juga dinaikan agar seluruh masyarakat bisa divaksin. Jadi pelayanan vaksin di Puskesmas dan posyandu itu sepenuhnya gratis," ujar Menkes RI, Nila F Moelek sesuai kunjungan kerjanya di Bio Farma Bandung, Sabtu (13/1/2018).

    Nila mengemukakan, KLB Difteri yang mewabah pada pertengahan Desember lalu adalah imbas dari adanya gap immunity di tanah air. Kesenjangan atau kantong kosong ini menurut Menkes, mendorong munculnya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri karena mereka tidak mendapatkan imunisasi.

    "Karenanya kita semua harus mendukung pelaksanaan ORI khususnya di wilayah yang terjadi KLB Difteri. Pemerintah juga wajib melindungi seluruh warga negara dari ancaman penyakit berbahaya," tambahnya.

    Menurutnya, selama tahun 2017, KLB Difteri terjadi di 170 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi. Tercatat, wabah ini terdapat 954 kasus, dengan jumlah kematian mencapai 44 kasus. Sementara hingga 9 Januari 2018, ada 14 laporan kasus dari 11 kab/kota di 4 provinsi yang meliputi DKI, Banten, Jabar dan Lampung, dan tidak ada kasus meninggal.

    Lanjut dia, awal Januari ini tidak ada penambahan Kabupaten/Kota yang melaporkan adanya KLB Difteri. Data terakhir, terdapat 85 kab/kota dari total 170 kab/kota yang sudah tidak melaporkan kasus baru. Menkes meyakinkan, KLB di 85 Kabupaten Kota tersebut sudah bisa disimpulkan berakhir.

    "Tanda berakhirnya suatu KLB, jika tidak ditemukan lagi kasus baru selama 2 kali masa inkubasi terpanjang, ditambah masa penularan Difteri sejak laporan kasus terakhir. Selanjutnya status KLB dapat dicabut setelah 4 minggu oleh pemerintah daerah," ucap Nila.

    Menkes juga menuturkan, Outbreak respons immunization (ORI) merupakan standard operating procedure apabila terjadi KLB penyakit yang sebenarnya bisa dicegah oleh imunisasi (PD3I). Di sisi lain, pihaknya masih menemui tantangan saat ada sekelompok masyarakat yang menolak pemberian vaksin. Pro kontra pemberian vaksin ini menurutnya erat kaitannya dengan isu vaksin halal yang saat ini masih diperdebatkan.

    "Saat ini ORI dilaksanakan langsung bila ditemukan penderita Difteri oleh Puskesmas. Sasaran ORI adalah anak berusia usia 1-19 tahun. Namun kami juga kerap berhadapan sengan isu kehalalan vaksin di beberapa tempat. Ke depan kami akan melakukan pendekatan dengan melibatkan tokoh keagamaan atau tokoh masyarakat setemlat untuk meyakinkan," bebernya.

    Sejauh ini, ORI putaran pertama sebagai upaya pengendalian KLB Difteri telah dilaksanakan pada pertengahan Desember 2017 di 12 kabupaten/kota di 3 provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Hingga 11 Januari 2018 cakupan di tiga provinsi tersebut rata-rata 68,36 % dari total sasaran 7,9 juta.

    Jelasnya, ORI akan dilanjutkan secara bertahap di 73 kab/kota di 11 provinsi lainnya pada tahun 2018 dengan kriteria Kabupaten/Kota yang masih memiliki laporan kasus baru.

    Selain itu, jika terdapat wilayah kab/kota yang sering melaporkan terjadi KLB difteri dalam 2017, terdapat kasus kematian serta wilayah yang kegiatan imunisasi rutinnya rendah di bawah 90%

    Pada pelaksanaan ORI Tahun 2017-2018 ini, Kemenkes membidik kurang lebih 32.212.892 orang dengan kategori usia 1- 5 tahun 7.236.672 orang, usia 5 - 7 tahun 3.684.049 orang), dan usia 7 -18 tahun 21.292.171 orang).

    Sementara itu, Bio Farma berkomitmen untuk mengalihkan vaksin difteri untuk distribusi ekspor ke dalam negeri selama kegiatan ORI difteri masih dilaksanakan sampai 3 putaran. Plt Direktur Utama Bio Farma, Juliman menegaskan, BUMN tersebut menjual vaksinnya untuk pemenuhan global dan dalam negeri dengan komposisi 50% - 50%.

    "Sebagai produsen Vaksin dan Antisera satu-satunya di Indonesia, kami akan memprioritaskan kebutuhan di tanah air, terlebih saat KLB Difteri seperti saat ini. Bahkan kami juga menjaga kualitas, keamanan, khasiat dan mutunya, upaya itu dengan pengujian dari Badan POM, serta pengakuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO)," ungkap Juliman.

    Saat ini terang Juliman, produk vaksin Bio Farma digunakan lebih dari 136 negara, termasuk diantaranya 50 negara Islam anggota OKI. Di luar vaksin yang diproyeksikan untuk mendukung ORI, distribusi ekspor vaksin global akan tetap dilaksanakan. Sedangkan untuk kebutuhan global, pihaknya akan menegosiasi ulang.