• Headline

    Wisata Halal Kian Diminati Kaum Milenial

    Oleh : Dini13 Maret 2018 22:59
    INILAH, Bandung - Mastercard-Halal Trip Muslim Millennial Travel Report (MMTR) merilis data terbaru terkait tren peningkatan wisatawan muslim di dunia. Hasil survei menyebutkan, pada tahun 2025 total pengeluaran wisatawan muslim milenial di tingkat global akan menyentuh angka100 miliar dollar Amerika Serikat.

    Destinasi wisata muslim yang diprediksi menjadi primadona sebagian besar anggota
    Organisasi Kerja sama Islam (OKI), antara lain Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Oman, Iran, Turki, Mesir, Malaysia, Kazakstan hingga
    Indonesia yang tercatat sebagai negara dengan populasi muslim tertinggi di dunia.

    Survei MMTR 2017 juga menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 1 miliar muslim yang berusia di bawah 30 tahun. Jumlah tersebut merepresentasikan 60% dari populasi di berbagai negara dengan mayoritas muslim sehingga menjadi kesempatan bagi pasar perjalanan wisata halal untuk mengembangkan daya tarik wisata yang lekat dengan minat generasi milenial.

    Memanfaatkan peluang baru di bisnis halal lifestyle, pemilik Perisai Grup, Perry Tristianto juga menyambutnya dengan membangun kolam renang berkonsep syariah yang berlokasi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bahkan dalam setahun ke depan, ia akan merampungkan muslim resort untuk menarik minat wisatawan muslim yang masuk ke Indonesia.

    "Wisata halal berkaitan juga dengan segala sesuatu yang berkonsep muslim. Inovasi kolam renang syar'i ini menjadi salahsatu jawabannya. Kalau mengusung konsep kolam renang khusus perempuan, artinya clear dari laki-laki, termasuk penjaga keamanan juga perempuan. Ini bagian dari strategi kami untuk menyerap pasar wisatawan dari negara muslim," ujar Perry saat diwawancarai di Bandung, Selasa (13/3/2018).

    Jelasnya, saat ini pasar wisata halal semakin menjanjikan karena populasi muslim di dunia mencapai 1,5 miliar jiwa. Namun menurut Perry konsep wisata juga tak bisa kaku dalam hal menggaet pasar. Lanjut dia, produk halal seperti makanan hingga tempat wisata halal juga kerap diminati wisatawan nonmuslim.

    "Untuk resort muslim, ini diharapkan bisa menjadi alternatif baru bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Kami juga membidik pasar wisatawan dari Timur Tengah," sambungnya.

    Perry mengemukakan, saat ini ia masih menggodok konsep hotel halal yang didukung juga dengan kuliner halal, termasuk membangun ekosistem yang mendukung leisure muslim. "Untuk menciptakan atsmosfer keislaman kami juga berencana mendukung aktivitas pengajian untuk anak," bebernya.

    Dijelaskannya, kunci utama untuk mengembangkan bisnisnya ada pada kekuatan inovasi. "Sejak dulu saya berganti-ganti konsep usaha, namun target market saya tidak berubah. Saya hanya harus terus bergerak, menginovasi lahan usaha dan mengikuti apa yang orang-orang inginkan saat ini," ujar Perry.

    Perry mengemukakan, pada konsep wisata halal ia tetap konsisteb untuk menggabungkan bisnis penginapan, kuliner hingga obyek wisata keluarga dalam satu tempat terpadu. Dengan strategi ini, Perry mampu membidik pengunjung keluarga, baik wisnus maupun mancanegara.

    Sementara itu, Direktur Industri Kecil dan Menengah Pangan, Barang dari Kayu dan Furniture, Sudarto mengemukakan Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim juga menjadi ceruk strategis juga menjadi peluang terbuka untuk mengembangkan IKM halal. Sebelumnya, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Cina, dan Singapura telah lebih dulu menangkap potensi halal sebagai industri yang menjanjikan hingga ke kancah global.

    "Tak dipungkiri, halal dalam kehidupan masyarakat menjadi tren dan kebutuhan. kawasan industri halal di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena seiring jumlah penduduk muslim yang mencapai 85,2 persen atau sebanyak 200 jiwa dari total penduduk 235 juta jiwa penduduk yang memeluk agama Islam," papar Sudarto beberapa waktu lalu di Bandung.

    Sambungnya, potensi halal market di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat signifikan. Bahkan jumlahnya mencapai angka 1,087 miliar dollar dan diprediksi semakin naik pada tahun 2030 dengan angka mencapai 1,8 miliar dollar.

    Sedangkan GDP Negara-negara Islam (OKI) di tahun 2017 ini mencapai 7.740 triliun dollar. Demikian juga menurut catatan International Trade Center 2015, pasar muslim untuk makanan pada 2014 sebesar 1,128 miliar dollar.

    "Saat ini, Indonesia menempati posisi negara konsumen terbesar dari produk makanan halal dunia, yaitu sebesar USD 197 miliar USD dengan diikuti Turki mencapai USD 100 miliar," rincinya.

    Selanjutnya Sudarto mengemukakan, Indonesia juga menduduki peringkat ke-10 dalam industri dan pasar halal dunia, sedangkan Malaysia peringkat pertama. Perkembangan industri halal di Malaysia jauh lebih maju dibanding Indonesia karena Malaysia sedang mengembangkan industri halalnya secara masif. [jek]


    TAG :


    Berita TERKAIT