• Tunanetra, Haidar Tak Pernah Surut Hafalkan Al-Qur'an

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar14 April 2017 19:44
    INILAH, Bandung - Haidar Akbar tidak pernah bisa memilih untuk lahir ke dunia dalam kondisi kedua belah matanya buta. Pun dia tidak memprotes karena telah menyadari semua adalah kehendak Sang Khalik yang memiliki wewenang penuh atas dirinya.

    Namun, bukan berarti semuanya sudah menjadi akhir bagi Haidar. Pemuda berusia 22 tahun itu memiliki tekad setebal baja untuk terus menjadi penjaga Kalimatullah yang tertuang di dalam Al-Quran.

    Tidak ada yang tidak bisa menjadi seorang penghafal Al-Qur'an, kata Haidar. Semua orang bisa melakukannya asalkan memiliki kemauan yang kuat serta kesabaran dalam melalui prosesnya.

    "Asalkan istiqomah dan menjalaninya dengan baik. Mau itu tunanetra atau bukan, semuanya bisa menjadi penghafal Al-Qur'an," kata Haidar ditemui INILAH usai penyelenggaraan Seleksi Tilawah Qur'an (STQ) XV tingkat Provinsi Jabar di Pusdai, Bandung, Kamis (13/4) malam.

    Malam itu Haidar tampil sebagai Qori dan Hafidz Terbaik Pertama untuk kategori hafalan Al-Qur'an sebanyak 30 Juz. Seluruh ayat-ayat Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW kini ada di kepalanya, menjadi pedoman hidupnya di dunia.

    Tampil dengan kekurangan yang dimilikinya, Haidar mampu mengubah itu semua menjadi keunggulan dibanding dengan peserta dewasa lainnya.

    Kehadiran dan prestasi Haidar mengundang decak kagum siapapun yang rela menghabiskan sisa malamnya di Pusdai, berharap Rahmat Allah turun saat itu. Ternyata dalam kondisi bagaimanapun umat Islam harus dekat dengan Al-Qur'an.

    "Saya sudah sepuluh tahun mendalami Al-Qur'an, sejak usia 12 tahun. Saya belajar di Pesantren Al-Falah, Nagrek, Garut. Butuh tiga tahun untuk hafal 30 Juz," kata Haidar.

    Banyak sekali manfaat dan hal-hal ajaib yang dia rasakan semenjak memutuskan diri untuk menjadi penjaga Al-Qur'an. Kemurahan Allah Ar-Rahman betul-betul dia rasakan ketika dirinya memiliki keinginan.

    Haidar bercerita, hajat dan keinginan itu seringkali langsung terkabul bahkan saat dirinya belum sempat berucap satupun kalimat doa. Ketika asa masih di dalam dada, rupanya Allah sudah wujudkan dalam sekejap.

    "Pernah waktu itu saya punya keinginan untuk umroh bersama orangtua. Belum sempat berdoa langsung dan masih cita-cita di dalam hati, ternyata langsung dijawab Allah. Alhamdulillah," kata Haidar.

    Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) sangat bersyukur jika tatar Pasundan begitu dipenuhi dengan para penghafal Al-Qur'an. Ini merupakan berkah tersendiri bagi Jabar dan masyarakatnya.

    Menurut Aher, para penghafal Al-Qur'an juga memiliki kelebihan tersendiri yang siapapun bisa menjadi bagiannya asalkan punya tekad yang kuat.

    Meskipun belum ada penelitian secara ilmiah, tapi berdasarkan pengalaman Aher bertemu dengan para penghafal Al-Qur'an, kebanyakan dari mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan prestasi akademik yang tidak bisa dianggap remeh.

    "Rata-rata mereka memiliki indeks pendidikan kumulatif di atas angka 3,7. Inilah mengapa kami memberikan beasiswa bagi penghafal Al-Qur'an, awalnya banyak ditentang tapi sekarang tidak," ujarnya.

    Dia berharap di masa mendatang akan hadir para penghafal Al-Qur'an lainnya yang tidak hanya berasal dari lingkungan pesantren. Aher ingin Al-Qur'an semakin membumi di Jawa Barat dan warganya semakin dekat dengan Kitabullah.

    "Saya harap nanti muncul juara tilawah dari mahasiswa fakultas kedokteran atau mahasiswa fakultas teknik. Kan, bagus," pungkas Aher. [jek]



meikarta.. the world of ours