• Headline

    Kepemimpinan Aher di Jabar Patut Ditiru

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar06 Desember 2017 17:08

    INILAH, Jakarta " Siapa pun yang terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2018-2022 adalah pilihan terbaik di mata rakyat. Namun, yang harus diperhatikan adalah pasangan yang akan memimpin selama lima tahun berikutnya harus mampu menjadi bapak bagi seluruh rakyat tatar Priangan.


    Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) asal Fraksi Gerindra, Oo Sutisna, mengatakan, masa kepemimpinan Ahmad Heryawan selama 10 tahun di Jawa Barat layak untuk ditiru oleh Gubernur dan Wakil Gubernur berikutnya karena meskipun datang dari partai politik tetapi mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat di Jawa Barat.


    “Itu saja kalau saya, mah. Sekarang, kan, banyak calon. Ada calon yang main media sosial, ada calon yang main baligo di mana-mana. Tetapi, jujurlah apa yang sudah dia perbuat kepada masyarakat. Kalau saya kira-kira begitu, dan jangan harap mereka bisa membayar (menyuap) masyarakat dengan uang. Itu tidak baik, lah,” kata Oo ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu (6/12).


    Politisi asal daerah pemilihan Sumedang, Majalengka, dan Subang itu menambahkan, sampai saat ini Gerindra masih merahasiakan siapa yang akan diusung pada pentas Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018. Hingga saatnya tiba, Gerindra akan mempublikasikannya kepada publik. Yang pasti, di tengah-tengah suasana yang masih cair, mereka mengindikasikan masih melobi-lobi beberapa pimpinan partai untuk membuat koalisi baru.


    “Kami bukannya tidak punya jagoan, Gerindra punya jagoan tetapi itu kewenangan Prabowo. Pasti beliau pun akan mencari yang terbaik untuk Jawa Barat,” kata Oo mantan Ketua DPD Gerindra Jawa Barat periode 2008-2013 itu.


    Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB), Syaiful Huda, mengaku dirinya merasa Gerindra akan membuat kejutan pada detik-detik terakhir pendaftaran calon pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat yang dimulai pertengahan bulan Januari 2018 nanti.


    “Saya melihat ada manuver yang berbeda yang dilakukan Gerindra. Saya enggak tahu ini hitung-hitungannya seperti apa, saya katakan akan ada kejutan-kejutan,” kata Huda.


    Tapi problemnya, dia melanjutkan, Jawa Barat ini tidak memiliki banyak opsi tokoh untuk diusung sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018. Bahkan dia pun mengakui jika partai penguasa sekelas PDI-Perjuangan pun sudah mulai kehilangan tokoh.


    “Lagi mencari-cari betul mereka. Jadi, sakah satu penanda dinamika Pilkada Jabar adalah mencari tokoh untuk diusung,” ujar Staf Khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi itu.


    Menurut pria asal Blitar kelahiran 41 tahun yang lalu, Pilkada Jabar 2018 juga masih bisa ditentukan oleh beberapa orang yang memiliki pengaruh, terutama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang akan mengakhiri masa kerjanya pada tahun depan setelah memimpin dan berbakti selama 10 tahun.


    Selain Aher, sapaan akrab Gubernur Jawa Barat, Presiden Joko Widodo juga memiliki kans untuk mengubah arah politik pada penyelenggaraan Pilkada Jabar 2018 berdasarkan hasil jajak pendapat sebuah lembaga surbey beberapa waktu silam.


    “Pak Aher saya hitung memegang peranan sebesar 30%, beliau dengan jaringan kerjanya selama 10 tahun bisa membuat perubahan. Jaringan kerjanya sebagai gubernur, ya, bukan jaringan partainya,” kata Huda.


    Menanggapi hal tersebut, Aher menyikapi dengan santai. Ditemui usai menerima penghargaan ‘Penganugerahan Predikat Kepatuhan terhadap Standar Pelayanan Punlik sesuai UU 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik’, dia berharap dirinya bisa memberikan dampak positif terhadap pasangan yang dia endorse.


    “Tidak salah dan bagus-bagus saja, mudah-mudahan ketika saya endorse salah satu pasangan, mereka dapat menjadi pasangan yang baik untuk melanjutkan visi-misi yang sudah dijalankan sekarang ini. Dan menjadikan Jawa Barat menjadi semakin lebih baik dan dapat bersaing dengan provinsi lainnya,” kata Aher ditemui di Balai Kartini, Selasa (4/12) kemarin.


    Terkait sikap Gerindra yang belum merapat ke partai tempatnya bernaung, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aher tidak mau berkomentar apa-apa dan menyerahkan seluruh keputusan tersebut kepada Gerindra yang diyakininya memiliki pertimbangan sendiri dalam menyikapi calon pasangan yang diusung PKS, PAN, dan Demokrat yaitu Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu.


    Asal tahu, kelengketan PKS dan Gerindra dimulai sejak Pemilihan Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014 silam. Saat itu mereka bersama PAN, PPP, dan Golkar bersatu mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa untuk bertarung melawan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.


    “Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja tidak ada masalah apapun, terkait Gerindra tentu pertimbangannya ada pada Gerindra. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa,” pungkas Aher. [jek]