• Elektabilitas Rindu dan Duo DM Turun

    Oleh : Inilahkoran21 Juni 2018 21:15
    INILAH, Bandung - Lembaga survey Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) telah merilis adanya penurunan elektabilitas pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jabar Ridwan Kamil-Uu Ruzhanululum (Rindu) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Duo DM).


    Penurunan tersebut dinilai Direktur Eksekutif Poldata Indonesia Fajar Arif Budiman sebagai titik jenuh. Hal tersebut diperkuat tidak adanya kenaikan popularitas dan elektabilitas yang signifikan, meskipun partai dan relawan diklaim bekerja optimal.


    Dalam keterangannya kepada wartawan, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia Totol Izul Fatah mengatakan, penurunan elektabilitas dibandingkan dengan hasil survey sebelumnya pada Maret 2018 lalu. Penurunan yang menimpa pasangan Rindu mencapai angka 1,3 persen, sedangkan penurunan pada pasangan Duo DM menembus enam persen.


    "Pada survei sebelumnya, Duo DM unggul tipis dengan raihan 43,2 persen. Lalu Rindu memperoleh 39,3 persen. Namun survei sekarang, pasangan Rindu menyalip Duo DM," kata Toto di Bandung, Kamis (21/6/2018).


    Toto menyatakan, elektabilitas pasangan Tb Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah) mencapai 7,7 persen dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) naik menjadi 8,2 persen. Kenaikan dua pasangan ini disumbang oleh kenaikan elektabilitas wakil masing-masing, yaitu Ahmad Syaikhu dan Anton Charliyan.


    Menurut Ketua Tim Pemenangan Sudrajat-Akhmad Syaikhu (ASYIK) Haru Suandharu, pihaknya menghormati hasil survey dari lembaga manapun. Tetapi pasangan urut nomor tiga ini memiliki survey sendiri.


    “Kita punya survey sendiri, hasilnya gak gitu-gitu amat. Kita punya kontrol, jadi kita biarkan saja karena bekerja dari survey sendiri,” kata Haru.


    Haru menjelaskan, berdasarkan survey internal tersebut, tren peningkatan pasangan ASYIK selalu positif. Dengan segala keterbatasan, perkembangan tersebut sudah sesuai harapan. Meskipun perlu kerja keras untuk meraih hatrrick kemenangan Pilgub Jabar.


    “Uniknya, posisi lembaga survey selalu sama. Dua pasangan selalu di atas. Bergantian. Ini juga jadi pertanyaan, kenapa bisa gitu. Tetapi kita hormati selalu hasil survey itu,” ujarnya.


    Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Firman Manan mengatakan, perseteruan antara pasangan Rindu dan Duo DM beberapa hari terakhir turut menyumbang penurunan elektabilitas. Kondisi tersebut kurang bagus bagi pendidikan politik masyarakat Jabar.


    “Kondisi ini kurang baguis, tapi tidak otomatis menjadi insentif bagi pasangan lain dalam hal elektabilitas. Kalau pun ada tidak terlalu besar. Kita harapkan pilkada ini damai dan beradab supaya hasilnya juga baik,” katanya.


    Menurut Firman, kasus dukungan yang merugikan kedua pasangan, seperti berita dukungan LGBT kepada Rindu atau dukungan paranormal kepada Duo DM sebaiknya diserahkan kepada pihak berwenang.


    “Siapa yang melakukan, tidak beradab. Sekarang serahkan ke pihak berwenang, misalnya Bawaslu. Kalau ada kerugian, diproses di saluran yang sebenarnya. Tidak saling menuduh, apalagi tanpa fakta. Kalau ada fakta, serahkan ke pihak berwenang karena pelanggaran bisa terkena pasal pidana pemilu,” ujarnya.


    Selain itu, Firman menilai, pasangan calon ini cenderung loyo die tape akhir pilkada. Hal tersebut terjadi umumnya karena masalah logistik.


    “Seharusnya di etape akhir lebih massif, ini malah menurun. Mungkin ini yang membuat penurunan elektabilitas pasangan 1 dan 4. Kalau no 2, dan khususnya ASYIK punya kader militant,” kata dia. [gin]


    TAG :


    Berita TERKAIT