• Mandiri di Negeri Rantau

    Oleh : Inilahkoran20 Mei 2017 11:37
    fotografer: Bambang Prasethyo


    TAK semua mahasiswa mampu mandiri di negeri rantau. Kebanyakan di antaranya masih menggantungkan nasibnya baik pada orangtua, saudara, ataupun pada sanak-familinya. Namun bagi Harminus Koto sudah menjadi tekad untuk bisa bertahan hidup diperantauan.


    Tidak ada jalan yang mulus menuju kesuksesan, begitu juga yang dialami Harminus dalam menjalani kehidupannya. Keinginan keras menjadi orang yang mandiri tanpa membebani orang lain, itulah yang mengantarkan Harminus hingga karirnya sekarang menjadi Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Barat.


    "Saya ini sudah lama menyelesaikan persoalan sendiri, sejak sekolah dasar, dalam segala hal itu saya selesaikan sesuai dengan kapasitas saya. Termasuk biaya pendidikan, sejak SMP hingga bangku Kuliah, Alhamdulillah segala kebutuhan sudah saya tanggung sendiri. Tapi kalau kadang telat bayar kos, mungkin sudah kebiasaan sejak saya kuliah di Ibu Kota,"paparnya.


    Sejak mengenyam pendidikan SMP hidup Harminus sudah berupaya dipenuhi dengan cara-cara sendiri. Tak heran, jika dirinya pernah usaha serampangan seperti jualan es keliling, menjadi kuli harian diperusahaan konpeksi, dan pekerjaan sulit lainnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan hidupnya. "Alhamdulillah saat itu saya bisa bertahan hidup, bahkan sesekali penghasilan saya sudah melebihi kebutuhan hidup saya," paparnya.


    Masa sulit juga pernah dia rasakan saat memutuskan untuk kuliah di Ibu Kota Jakarta. Saat kepindahan dia ke Jakarta, bertepatan dengan meninggalnya almarhum ayahnya. Kondisi itulah yang menjadi pukulan berat bagi hidupnya. Dengan berbekal pesan dari ayahnya, Harminus merasa yakin dirinya akan berhasil hidup di Jakarta.


    "Pesan almarhum cuma tiga, kalau mau sekolah, sekolahlah yang bener. Kalau mau jadi ulama, jadi ulamalah yang bener. bahkan kalau sekalipun jadi perampok, jadi perampoklah yang bener. Pesan itulah yang meleket terus dalam kehidupan saya. Inti dari pesan itu yang saya renungi adalah bagaimana kita menjalankan sesuatu itu harus secara total dan sungguh-sungguh. Insya Allah hasilnya akan maksimal,"kenangnya.


    Dengan berbekal petuah almarhum ayahnya itulah yang menjadi keyakinan Harminus untuk bertahan di ibu kota. Saat itu dia melanjutkan study-nya di Universitas 17 Agustus dengan mengambil jurusan ilmu komunikasi.


    Dari perjalan hidupnya di Jakarta, ada cerita haru yang dia alami. Saat menyelesaikan skripsi, penghasilan pekerjaan serabutan dia menjadi kurang karena fokus menyelesaikan kuliah. Hampir setiap bulan, ibu kosnya mengunci pintuk kamarnya dari luar karena dia belum bayar kos.


    "Ibu kos itu sering kali saya kerjai, kalau belum bayarkan biasanya pintu kamar digembok dari luar. Tapi karena saya ingin mengerjakan skripsi, saya kadang malam-malam datang ke kamar kos dan masuk lewat jendela. Selepas salat subuh saya buru-buru keluar lagi, takut ketauan ibu kos. Itu sering terjadi sampai saya bisa melunasi bayaran."kenangnya.


    Pria kelahiran 27 Januari 1965 di Bukit Tinggi ini, tak pernah menceritakan penderitaannya ke ibu kandungnya di Binjai. Dia selalu memberikan kabar baik bagi keluarganya di kampung. "Sampai sekarang, peristiwa-peristiwa pahit itu tak pernah saya ceritakan ke ibu saya. Tapi ke anak sering saya ceritakan, sekadar buat pelajaran mereka," tutur bapak beranak empat ini.


    Kesuksesan hidupnya hingga sekarang tak lepas dari prinsip hidupnya yang hingga sekarang terus dipegang. "Prinspi hidup saya adalah jangan menghalalkan segala cara saat berusaha. Usahalah sesuai kemampuan dengan cara-cara yang benar."pungkasnya. (tantan)



    Bekerja Dengan Hati Nurani

    SEJAK mahasiswa Harminus Koto sudah aktif dalam dunia kepemiluan. Sejak lahirnya Undang-undang Bawaslu sekitar tahun 2007 lalu, dia sudah aktif membantu komisioner Bawaslu dengan menjadi tim asistensi. Rasanya, sudah sangat mumpuni bagi Harminus untuk memimpin Bawaslu Jabar.


    Saat menjadi tim asistensi Bawaslu pusat, dia memiliki peran penting bagi lahirnya regulasi Bawaslu dari tingkat pusat hingga tingkat Kelurahan/Desa. Tak heran jika pengalam itu, dia mendapat kepercayaan menjadi Ketua Bawaslu Jabar.


    Dari pengalamannya sebagai tim asistensi, tugas-tugas kepemiluan lekat dengan dirinya. Harminus merasakan masih banyak kekurangan-kekurangan yang saat ini masih harus terus diperbaiki. "Hal yang paling kita perhatian adalah bagaimana membangun mental masyarakat menjadi pemilih yang baik. Pemilih yang anti kecurangan, pemilih yang berani menolak segala cara-cara kotor dalam pelaksanaan proses demokrasi. Hal inilah yang akan kita tingkatkan terus di masyarakat,"paparnya.


    Harminus mengaku, jika masyarakat sudah menjadi pemilih yang baik. Dia meyakini proses demokrasi akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berpihak terhadap kepentingan umum, bukan untuk kepentingan golongan atau pribadai. "Bahaya jika pemimpin terlahir dari persaingan perebutan kekuasaan dengan cara-cara tidak baik. Tapi jika pemilihnya sudah tidak tertarik dengan cara-cara kotor, tentunya akan menghasilkan pemimpin yang baik pula. Pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarakat,"harapnya.


    Bagi Harminus, menjadi Ketua Bawaslu Jabar adalah amanah yang sudah tersirat dalam undang-undang. Karenanya dia selalu berpesan kepada seluruh tim Bawaslu agar bekerja sesuai dengan hati nurani. "Saya selalu mengingatkan kepada para pengawas pemilu agar bekerja sesuai dengan hati nurani, jangan mudah terganggu dengan hal-hal negatif. Jika bekerja dengan hati nurani, saya yakin proses demokrasi akan berjalan sangat baik,"harapnya.


    Bagi Harminus tidak ada tantangan pekerjaan yang sulit kalau seluruhnya didasari dengan pemahaman regulasi yang baik. "Dalam tugas saya saat ini, yangg sulit itu adalah bagaimana caranya agar masyarakat pemilih mau ikut mengawasi terlibat langsung secara aktif. Itulah yang menjadi tantangan pekerjaan saya saat ini,"tutunya.

    Dia merasa yakin, petugas panwas yang ada di wilayah Jabar saat ini sudah memiliki integritas dan tanggungjawab yang tinggi terhadap pekerjaannya. "Kelembagaan sudah selesai. Sudah tidak ada lagi panwas yang macam-macam. Selama bertugas di Bawaslu ini, saya sudah membangun kultur kerja dengan menciptakan pekerja yang berintegrasi, mentalitas kuat, serta membangun pekerjaan yang profesional," tegasnya.


    Kultur yang dibangun di lingkungan kerjanya itu, lanjut Harminus, sudah terbukti pada saat pelaksanaan Pilkada di delapan daerah beberapa waktu lalu. "Ini sudah terbentuk, terbukti di gelombang Pilkada kemarin, bahkan saat Pemilu legislatif dan Pilpres lalu. Cara bekerja teman-teman di pengawasan sudah berubah. Mereka sudah bekerja dengan regulasi yang ada, yang paling penting mereka sudah bekerja dengan hati nurani,"paparnya.


    Untuk menciptakan proses demokrasi yang sehat, Harminus memiliki keinginan adanya relawan pengawas. Harapannya, akan menghasilkan kualitas pemilu yang baik dan partisipasi yang optimal hingga melahirkan pemimpin-pemimpin sesua dengan keinginan masyarakat. Relawan ini juga diharapkan menjadi garda terdepan yang menolak praktik politik uang, mobilisasi, atau upaya lainnya yang melanggar aturan Pilkada.


    "Intinya kita bangun dulu mentalitas pemilih. Targetnya, mereka akan menolak bahkan melaporkan jika ada upaya-upaya kecurangan di lapangan. Jika pilkad serentak ini kita proses dengan cara-cara yang sehat, tentunya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sehat pula,"pungkasnya. (tantan s)