• Kamad Nyentrik

    Oleh : Inilahkoran01 April 2018 09:36

    BERBAKTI kepada negeri dan Ibu Pertiwi sebelum mati. Moto hidup itulah yang dipegang teguh Rosihan Fahmi. Selama hidupnya, dia ingin terus memberikan manfaat bagi banyak orang.


    Fahmi. Begitu orang-orang sekeliling memanggilnya. Ya, pria kelahiran Bandung 19 November 1976 ini, kini tercatat sebagai kepala Madrasah (Kamad) Aliyah Manba'ul Huda, Kota Bandung. Menjadi kepala madrasah, tentu bukanlah perkara yang mudah bagi siapapun, termasuk bagi Fahmi.


    Pria yang sudah dianugrahi tiga anak ini berpenampilan cukup nyentrik. Selain berambut gondrong, dalam setiap aktivitas dia selalu mengenakan celak mata dan berdandan bak musis rocker. Selintas kita tak akan percaya pria yang tengah menyelesaikan Study S3 Ilmu Filsafat ini adalah seorang kepala madrasah.


    Jika menengok sedikit kebelakang soal karir hidup pria berambut gondrong ini, memang cukup menarik, bahkan boleh jadi sebagai inspirasi bagi siapapun yang melihatnya.


    Sebelum menjadi kepala madrasah Manba'ul Huda, ada perjalanan panjang yang dia lakukan. Usai menyelesaikan studi S-2 Ilmu Filsafat di Jakarta, pada awal 2008, Fahmi diminta oleh kedua orangtuanya untuk mengelola sebuah pesanteren.


    Uniknya, tawaran dari kedua orangtuanya itu tidak langsung dia terima. Alasannya pun cukup klasik, karena gaji yang didapat bisa dikatakan tidak terlalu besar.


    Masih di tahun yang sama, memasuki pertengahan 2008, Fahmi berbalik pikir, tawaran dari orangtuanya akhirnya diterima. Memasuki 2008 akhir, dia menghadap orangtuanya yang sekaligus ketua yayasan, dan dimandatkan sebagai kepala madrasah.


    "Pikiran saya sederhana aja, kenapa saya menerima tawaran orangtua saya. Orangtua yang tak pernah bosan untuk mengembalikan saya ke pesantren, karena dulu juga saya sekolahnya di pesantren," kata Fahmi.


    Selama menjadi kepala madrasah, banyak tantangan yang harus dia hadapi. Apalagi, pria yang hobi mengikat rambutnya ini, memiliki basic ilmu filsafat. Beberapa tantangan itu diantaranya, mulai dari administrasi, kurikulum, sistem pembelajaran dan lainnya. "Selama empat bulan, saya tidak bisa menggaji guru, karena saya benar-benar blank. Disitu saya berfikir bagaimana harus bertahan," ujarnya.


    Tidak hanya berhenti sampai disitu, pada 2009 lalu, saat UN berlangsung, ia tidak mengikuti mekanisme kebanyakan, ia justru mengambil dengan caranya sendiri dan hasilnya, 100 persen santri yang ia kelola tidak lulus. Sebabnya, porsi pembelajaran, pelayanan terhadap proses pembelajaran, metode, dan cara penyampaian dianggap kurang revolusioner ke anak-anak. "Ya, itu karena saya tidak mau mengikuti mekanisme kebanyakan," jelasnya.


    Setelah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga ini, pada akhirnya, Fahmi mencoba untuk mempelajari ulang kurikulum yang sudah ada. Setelah dipelajari, banyak sekali tumpang tindih, banyak yang sifatnya tidak esensial, dan tidak substansial, bahkan banyak faktor yang bongkar pasang, mulai dari urusan pelayanan kepada santri, guru dan orangtua.


    Disitulah ide brilian dan pemikirannya ditumpahkan untuk membangun Madrasah Aliyah Manba'ul Huda jauh lebih baik lagi. Beberapa program pun ia buat, salah satunya adalah klinik santri.


    "Jadi klinik santri ini adalah, ketika para santri ingin menghendaki pembelajaran lebih intens dan lebih dalam, kami fasilitasi 24 jam. Santri bisa datang ke rumah guru atau via sms dan email. Jadi ini semacam private," paparnya.


    Melalui program klinik santri kata dia, para guru harus bisa memfasilitasi para santrinya diluar jam pelajaran. Mereka harus bisa membimbing dan mengarahkan apa yang mereka butuhkan.


    Sebagai seorang kepala madrasah, Fahmi terus berusaha untuk mengelola gurunya dengan baik dan kebutuhannya terpenuhi. "Kalau saya bisa mengelola guru dengan baik, Insya Allah dia bisa melayani santrinya dengan baik," ucapnya.


    Hingga saat ini, santri yang awalnya hanya 50 orang, kini jumlahnya semakin banyak mencapai 211 santri untuk tingkat aliyah. Sementara untuk keseluruhan ada sekitar 700 santri. Hal ini tentu saja berkat ikhtiar dari semua pihak.


    "Harapan untuk santri, selalu mengasah kepedulian, kepekaan terhadap sesama. Gol dari pesantren kami adalah, apapun jalan yang ia pilih, adalah jalan yang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Target saya itu adalah, bagaimana caranya non muslim bisa sekolah di Madrasah kami," paparnya.


    Selain kepada guru, kepala madrasah lulusan S2 fakultas ilmu pengetahuan budaya, program studi ilmu filsafat Universitas Indonesia (UI) ini, mencoba mendekatkan diri kepada orangtua santri melalui hotline service. Jika ada orangtua santri yang memiliki keluhan terhadap anaknya, hitline service bisa menjadi jembatan bagi para orangtua santri. "Dengan pola seperti itu, kita terbuka kepada seluruh masyarakat. Itu mungkin yang memiliki imbas yang cukup keren," imbuhnya.


    TAG :


    Berita TERKAIT