• Headline

    Istiqamah di Jalan Kebaikan

    Oleh : Ahmad Heryawan09 Juni 2017 09:04
    HIDUP manusia selalu berada dalam dua pilihan, baik atau buruk, selamat atau nestapa. Dalam kehidupan ini, kita senantiasa diberikan pilihan, keputusan demi keputusan akan membawa kita pada pilihan-pilihan berikutnya, begitulah hidup ini berlaku.

    Orang-orang yang berilmu dan dapat menundukkan hawa nafsunya akan senantiasa berada pada pilihan-pilihan terbaik di atas jalan kebaikan. Pada dasarnya, begitu sederhana untuk meraih rida Allah. Kita hanya perlu terus istiqamah dalam kebaikan sambil terus memelihara iman kita.

    Allah Swt. berfirman: “Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110 ). Hanya orang-orang yang beriman dan mendapat rida Allah yang dapat dipertemukan dengan Allah di akhirat kelak.

    Namun dalam perjalanannya, setan tak pernah kendur dalam usahanya untuk menyesatkan bani Adam agar melenceng dari jalan kebaikan. Maka, selain pengetahuan akan kebaikan tersebut, kesabaran kita dalam menempuh jalan kebaikan dan kemampuan untuk menepis godaan syaitan merupakan dua hal yang sangat penting. “Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS Al-Kahfi [18]: 68 ).

    Demi istiqomah dalam kebaikan, kita harus memahami benar apa esensi dan hikmah dari kebaikan tersebut. Artinya, kita harus senantiasa menggali ilmu-ilmu yang bermanfaat sebagai bekal kita dalam “menentukan pilihan”. Contoh sederhananya, kita dihadapkan pada pilihan menggunakan uang untuk bersedekah ke masjid atau membeli pakaian baru yang sebenarnya tidak terlalu penting.

    Jika kita tahu ilmunya bahwa memberi sedekah bernilai pahala dan akan memberikan dampak nyata bagi umat, tentu kita akan memilih untuk bersedekah. Dengan ilmu, kita akan paham pula, bahwa segala kebaikan dan keburukan yang kita lakukan hasilnya akan kembali kepada kita. “Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS Fushilat [41]: 46 ).

    Selain kita harus terus mencari ilmu, kita pun harus menanamkan sikap bersegera dalam melakukan kebaikan.

    Jika kita terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan perbuatan baik tersebut, takut ini, khawatir itu, setan akan semakin rentan menggoda pendirian kita. Saat tebersit niat untuk berbuat baik, segera lakukan dan jangan ditunda-tunda. Bersemangatlah dalam kebaikan sebab kita akan memperoleh balasan dan pahala kebaikan pula saat kita mengerjakan setiap hal yang baik.

    Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga ….” (HR Muslim).
    Hal terpenting ialah tetap memelihara keimanan kita kepada Allah. Siapapun yang senantisa menghadirkan Allah Swt. dalam hidupnya, Allah akan memberikan petunjuk serta pertolongan.

    Tetap berada dalam jalan kebaikan merupakan hal yang prinsip sebagai seorang Muslim. Di mana ada kaum muslim, di situ ada kebaikan. Bahkan, ketika di sana tak didapati kebaikan, kaum Muslim wajib untuk memupuk kebaikan di tempat itu. Maka, tetap berada pada jalan kebaikan merupakan syarat untuk mengejawantahkan hal ini.

    Memang, ada kalanya jalan berliku, ada kalanya kita sedikit bergeser di atas jalan tersebut. Namun, selama kita berada pada jalan kebaikan, in Syaa Allah, Allah akan senantiasa menyertai kita. Wallahu’alam bishawaab. (*)





meikarta.. the world of ours