• Headline

    Meretas Takwa Melalui Ramadan

    Oleh : Kang Aher10 Juni 2017 05:00
    Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia. Disebutkan dalamberbagai riwayat, bahwa setiap kali Ramadan datang, Rasulullah Saw. senantiasa berkhutbah menyeru kepada para sahabat untuk mengingatkan mereka akan hadirnya kesempatan emas. Saking mulianya bulan Ramadan, setiap detiknya memiliki pahala yang berlimpah. Tak hanya itu, balasan kebajikan yang dilakukan akan Allah lipat gandakan.

    Kehadiran bulan Ramadan membawa perintah kepada umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah ini Allah jadikan sebagai sarana pendidikan Ilahi (tarbiyah ilahiyah), untuk mencetak generasi-generasi terbaik dari hamba-Nya, yaitu generasi yang mampu melandasi setiap aktivitasnya sebagai semangat keikhlasan. Keikhlasan ialah nilai dan karakter penting dalam menjadikan setiap amal perbuatan yang dikerjakan menjadi bernilai.

    Ada sebagian di antara kita, yang memaknai bulan Ramadansecara tidak tepat. Ramadan dianggap sebagai beban yang menyusahkan dan mengganggu. Mereka beranggapan bahwa hadirnya Ramadan akan menurunkan kinerja dan produktivitas hanya karena beralasan tidak makan dan minum pada siang hari.

    Hal yang demikian tentu tidak tepat. Sikap demikian menunjukkan rasa tidak senang dan tidak bahagia dengan hadirnya bulan suci Ramadan, dan ini termasuk bagian menentang perintah Allah Swt., naudzubillah. Sikap demikian akan menjelma sebuah keterpaksaan, dan keterpakasaan merupakan lawan dari keikhlasan yang merupakan ciri dari orang-orang yang bertakwa.

    Lantas, bagaimana bisa kita menjadi hamba Allah yang bertakwa, jika Ramadan dianggap sebagai beban, sementara bulan Ramadan adalah momen penting dalam pembentukan diri menjadi hamba Allah yang bertakwa?
    Bulan suci Ramadan merupakan sarana untuk memperbaikidan menjaga kualitas ketakwaan dalam diri setiap muslim.

    Ramadan juga menjadi sarana untuk melatih diri agar lebih ikhlas dalam segala hal, dan ikhlas adalah ciri orang yang bertakwa. Hal ini senada dengan ucapan para ulama dalam mendefinisikan makna takwa: “Penuhnya jiwa seorang mukmin dengan gelora cinta kepada Allah, dan dengan gelora penuh harap terhadap rahmat Allah, serta rasa takut akan azab Allah Swt.” Ketika hati dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah Swt., maka rasa tersebut akan mendorong kepada totalitas penghambaan kepada-Nya, yang menjadikan dirinya nikmat dalam menjalankan segala bentuk perintah dari Allah Swt. Itulah gambaran dari makna keikhlasan.

    Hadirnya bulan suci Ramadan semestinya dimaknai sebagai upaya untuk melahirkan kualitas ketakwaan yang sempurna.
    Kualitas ketakwaan yang lahir dari pelaksanaan ibadah puasayang sempurna, yaitu dengan keikhlasan dalam menjalankannya.

    Ibadah puasa dalam bulan suci Ramadan hendaklah dijadikan momen dalam menakar ikhlas untuk melahirkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. [*]