• Headline

    Ramadan dan Hijrah Diri

    Oleh : Ahmad Heryawan13 Juni 2017 04:41
    Tak ada Islam tanpa kepasrahan terhadap Allah. Jika kita hidup semau kita dan memaksakan segala kehendak kita, itu artinya kita belum ber-Islam. Dengan kata lain, ber-Islam ialah pasrah terhadap segala ketentuan Allah, menunaikan segala kewajiban yang Allah berikan kepada kita, hak kepada sesama muslim, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

    Tapi pada perjalanannya, kita pasti pernah melakukan dan seringkali lalai dari peringatan Allah untuk menjauhi dosa-dosa. Keberpalingan kita dari perintah tersebut merupakan suatu sifat kedurhakaan. Maka, dari posisi yang berada pada pusaran kezaliman tersebut, kita mesti segera beranjak menuju keadaan yang lebih baik. Dengan kata lain, hijrah.

    Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Abdullah ibn Amr, menyatakan: “Seorang muslim adalah yang membuat orang-orang muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Adapun orang yang berhijrah adalah orang yang hijrah meninggalkan larangan-larangan Allah.” (HR Bukhari).

    Berdasarkan hadis ini, hijrah merupakan suatu kewajiban, sebab ia merupakan tuntutan dan upaya untuk meninggalkan larangan-larangan Allah Swt.
    Hijrah diri yang harus kita lakukan ialah meninggalkan kondisi keterpurukan, misalnya dengan selalu enteng dalam melakukan dosa, atau bahkan tak merasa berdosa sedikit pun atas suatu perkara, kendatipun hal tersebut telah nyata merupakan dosa, dan perbuatan-perbuatan yang mengindikasikan sifat fasik lainnya.

    Maka, proses hijrah tersebut tak lain ialah suatu energi dan perbuatan nyata dalam rangka bergerak menuju Allah, seperti yang tercantum dalam firman Allah Swt.: “Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (QSAdz-Dzariyat [51]: 50).

    Dalam tingkatan tertentu, hijrah kita bukanlah hijrah yang menjadikan kita beralih dari satu tempat ke tempat lainnya layaknya peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah yang dilakukan oleh Rasululllah dan umatnya. Hijrah yang kita lakukan cukup pada batin dan perbuatan kita. Jauhi perbuatan maksiat, bersihkan hati kita dari dosa-dosa yang tak kasat mata; semisal berburuk sangka, berniat jahat, dengki, sombong, dan lain sebagainya. Kita pun harus mampumemanifestasikannya dalam perbuatan kita.

    Jika hati saja sudah berhijrah, tentu demikian dengan sikap dan tindak tanduk kita. Sebab hati memegang komando, seperti dalam keterangan hadis berikut: “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati". (HR Muslim).

    Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mengazamkan pada diri kita demi melakukan hijrah diri. Apalagi, Ramadan adalah bulannya ampunan. Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan hijrah diri, kuatkan pondasi keimanan kita dengan amalan shaum dan aktivitas lainnya yang dapat memperkuat ruhiyah kita. Pasrahkan diri kita untuk tunduk kepada seluruh perintah Allah dan anjuran Rasul-Nya.

    Tak ada hijrah tanpa peralihan menuju kondisi yang lebih baik. Maka, hijrahnya diri kita pasti akan memberikan dampak positif pada diri kita, baik di dunia maupun di akhirat. Hijrahnya Rasulullah pun pada hakikatnya merupakan ketundukan terhadap perintah Allah dan pasrah terhadap segala ketentuan-Nya.

    Maka, bagi diri kita pun sebagai seorang mukmin, wajib menyadari pula bahwa hijrah merupakan perintah Allah semata, yakni hijrah dari keterpurukan, dosa, dan kefasikan, menuju keberserahan dalam koridor ketakwaan. Wallahu’alam bi shawab.[*]