• Headline

    Memerangi Sifat Malas

    Oleh : Kang Aher14 Juni 2017 04:39

    Malas adalah penyakit mental yang sangat berbahaya sebab dapat menjerumuskan kita pada kegagalan dan penyesalan. Sifat malas selalu menghantui setiap orang tanpa kenal waktu dan batasan usia. Ia seolah terus melekat dan mengganggu kualitas hidup kita, kendatipun kita menyadari bahwa banyak kesempatan menuju kesuksesan yang hilang hanya karena sifat yang satu ini.


    Tak sedikit kondisi dan situasi kurang menguntungkan yang kita rasakan saat ini merupakan akibat dari rasa malas yang tak mampu kita halau. Padahal, Allah Swt. telah memberikan penjelasan bahwa perubahan kondisi dalam hidup kita sangat ditentukan dengan tingkat keseriusan dan kerja keras yang kita lakukan. Allah Swt. tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu berusaha untuk mengubahnya.

    Keberhasilan tak akan pernah datang hanya dengan mengkhayal. Sunnatullah dalam kehidupan ini menegaskan bahwa tidak mungkin kita kenyang hanya dengan mengkhayal, tetapi rasa kenyang akan datang setelah kita makan, begitu pun juga kesulitan hanya akan dapat diatasi ketika kita melakukan usaha untuk mengatasinya.

    Rezeki akan datang ketika kita berusaha untuk menjemputnya, dan tidak akan pernah datang hanya dengan bermimpi. Pentingnya effort yang kita keluarkan dalam mencapai suatu tujuan yang kita harapkan adalah landasan penting dari kesungguhan kita dalam bertawakal kepada Allah Swt. Bertawakal bukanlah berpasrah tanpa usaha, tawakkal ialah upaya yang diawali kebulatan tekad dan kesungguhan yang diiringi doa dan kerja keras.

    Apabila kita cermati berbagai tuntunan syariat kemalasan ditegaskan sebagai suatu penyakit dan setiap muslim diperintahkan untuk mengatasinya. Sebuah pelajaran berharga yang terkandung dalam syariat jihad sangat berkaitan dengan usaha untuk mengusir sifat malas.

    Jihad tidak dimaknai sebatas mengangkat senjata, tapi pelajaran penting dari jihad adalah bagaimana pentingnya motivasi untuk berusaha. Pergi ke medan perang membutuhkan kekuatan lahir dan batin, butuh kekuatan untuk mengusir rasa malas dan rasa takut.

    Mungkin kita harus merenungkan pula, jika saja para sesepuh dan tokoh bangsa ini di masa lalu tak mampu mengusir rasa malasnya, nikmat kemerdekaan negara ini belum tentu sebaik seperti yang kita rasakan pada hari ini.

    Terkait dengan sifat malas sebagai penyakit yang harus diperangi, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa yang senantiasa beliau panjatkan kepada Allah Swt.:

    “Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari tekanan utang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud: 1333, An-Nasai: 7572, Al-Baihaqi: 170)

    Melalui doa tersebut, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita, bahwa sosok seorang muslim sejati haruslah tergambar sebagai sosok yang penuh semangat, memiliki motivasi tinggi dalam mengejar kesuksesan, dermawan, mandiri, dan peduli terhadap sesama. Tidak patut disebut sebagai seorang muslim sejati, jika kita senantiasa mengeluh, malas, takut, dan kikir, bahkan selalu bergantung kepada orang lain dan sering berbuat zalim.


    Ingatlah bahwa surga Allah Swt. tak akan dapat kita raih hanya melalui lamunan dan angan-angan, tapi harus diraih dengan semangat yang tinggi untuk konsisten dalam jalan hidup yang diridai Allah Swt.

    Pun demikian halnya dengan hari-hari Ramadhan yang tengah kita arungi. Segala keistimewaan dan pahala kebajikan hanya akan berlalu begitu saja apabila kita tidak menyingsingkan semangat untuk mengerjakan berbagai amal saleh dengan penuh keikhlasan, serta menghadirkan penyempurnaan dalam melaksanakannya. Pahala berlipat dan kebajikan yang teramat agung niscaya dapat kita raih diantaranya dengan memulai melawan rasa malas, sehingga Ramadhan dengan berbagai keistimewaanya tidak berlalu meninggalkan kita tanpa makna. [*]