• Headline

    Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

    Oleh : Ahmad Heryawan15 Juni 2017 07:36
    Dalam Islam, tak hanya hubungan dengan Allah Swt sebagai Pencipta yang diperhatikan (hablumminallah), hubungan dengan sesama manusia pun (hablumminannaas) pun menjadi perkara penting yang turut diperhatikan.

    Islam sebagai agama yang sempurna, mendorong umatnya untuk mengejar keseimbangan. Jangan sampai hubungan dengan Allah begitu dekat, tapi dengan sesama manusia justru menjauh. Jika demikian yang terjadi, pada hakikatnya orang yang bersangkutan belum mengamalkan Islam secara benar.

    Justru, bilamana Allah dekat dengan kita, orang lain pun memiliki hubungan yang baik dan rukun dengan kita. Pandangan ini tak lepas dari konsep silaturahmi yang sangat ditekankan dalam Islam. Silaturahmi, sebuah konsep yang sangat indah dalam Islam, menyatukan, dan sejalan dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial dan hamba yang mengemban kewajiban untuk beriman.

    Secara umum, silaturahmi memiliki makna tali persahabatan atau ikatan persaudaraan, yang merupakan bentuk serapan dari bahasa Arab “shilaturrahiim”. Kata ini sendiri tersusun atas dua akar kata, yakni “shilah” (ikatan, hubungan, pemberian, karunia) dan “arrahiim” (kerabat, peranakan, atau rahim sebagai organ yang dimiliki wanita untuk mengandung janin). Rahim sendiri merupakan tempat curahan kasih sayang seorang ibu dan rahmat Allah yang meliputi sang janin selama berada dalam rahim yang kokoh. Begitu si bayi dilahirkan dan tumbuh besar, ia semestinya memberikan rasa kasih sayangnya kepada orang lain.
    Adapun kerabat, bermakna ikatan yang tercipta karena adanya proses perkandungan pada rahim yang sama, sehingga jadilah ia disebut kerabat. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis yang sangat indah: “Ketika Allah menciptakan rahim, Ia berfirman, ‘Aku al-Rahman dan engkau Al-Rahim, aku ambil namamu dari namaku, siapa yang menghubungkan padamu, Aku menghubungkannya dan siapa yang memutuskan denganmu Aku memutuskannya.”

    Maka, rahmah-rahiim mengandung makna al-riqqatu (belas kasihan) dan al-ihsan (kedermawanan, murah hati). Betapa agungnya asal-muasal silaturahmi, sehingga tak heran jika manusia dituntut untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi. Dengan demikian, makna silaturahmi adalah menyambungkan tali kasih sayang dan kekerabatan yang darinya muncul suatu kebaikan, entah itu kepada sanak kerabat maupun dalam cakupan yang lebih luas yakni ke sesama manusia dan kaum mukmin.

    Di bulan Ramadan ini, amat banyak aktivitas dan kesempatan bagi kita untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi. Jika pada hari-hari biasa, kita cenderung merasa bahwa pada saat makan di rumah tidak ada keistimewaan, maka pada saat Ramadan, kita bersama keluarga makan sahur, saling membangunkan, bercengkerama, dan sebagainya.

    Begitupun saat buka shaum dan makan setelah berbuka, kembali hubungan kita dieratkan dalam situasi yang penuh keakraban. Atau pada kesempatan berbuka bersama di masjid misalnya, kita bisa bertemu dengan tetangga-tetangga kita, bertergur sapa, mengobrol atau sekadar menanyakan kabar dirinya dan keluarganya. Lalu, saat tarawih, kita berangkat bersama dengan keluarga, di jalan menuju masjid pun, kembali kita berpapasan dengan tetangga dan saudara-saudara kita.

    Belum lagi kegiatan-kegiatan seperti tadarus bersama dan khataman, pengajian-pengajian setelah shubuh atau menjelang berbuka. Semuanya mengarahkan kita pada kondisi kedekatan satu sama lain, mengakrabkan kita agar senantiasa ingat bahwa kita punya hubungan yang baik. Entah itu hubungan keluarga maupun hubungan sebagai saudara seiman.

    Oleh karena itu, tak salah jika kita menyebut Ramadan sebagai bulannya mempererat tali silaturahmi. Jalinlah tali silaturahmi, tambah hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita, sekaligus pertahankan hubungan baik yang telah terjalin sebelumnya. Insya Allah, Ramadan kita akan semakin bermakna, sebab tak hanya tertuju pada hablumminallah, tapi juga menguatkan aspek hablumminannaas dalam diri kita. (*)