• Headline

    Bulan Merajut Rasa Syukur

    Oleh : Ahmad Heryawan16 Juni 2017 09:06
    SALAH satu intisari Ramadan adalah syukur. Dia bisa menghalau pengaruh gaya hidup hedonisme.

    Ramadan mempertajam kepekaan kita untuk dapat memahami banyak hal. Mulai penderitaan saudara-saudara kita yang tidak mampu hingga berbagai rahmat serta nikmat Allah yang seringkali kita lupakan.

    Ramadhan mengajak kita agar banyak bersyukur dalam hidup ini. Sesulit apapun hidup kita, sesederhana apapun gaya hidup kita, hendaknya tetap dihiasi rasa syukur. Jangankan mendapat nikmat, mendapat ujian saja kita harus bersyukur dan menggali hikmah di balik itu semua.

    Sayangnya, dewasa ini kita terlalu sering disuguhi hal-hal yang tergolong ke dalam potret kehidupan yang hedonis. Kemehawan dan gelimang kenikmatan yang dibarengi dengan sifat takabur sangat mudah kita temui. Pada gilirannya, hal-hal tersebut dapat meracuni pikiran kita, hingga memalingkan kita dari rasa syukur karena menempatkan pola hidup semacam itu sebagai standar. Inilah salah satu mata pisau dari perkembangan zaman dan globalisasi yang niscaya akan kita hadapi sebagai ujian.

    Ramadan dalam hal ini, berusaha menghalau efek dari pengaruh-pengaruh gaya hidup hedonisme yang menghapus rasa syukur dalam diri kita. Indonesia belum menjadi negara maju, kita masih merupakan negara berkembang.

    Tentu saja, masih banyak rakyat kita yang merasakan kesempitan hidup dan berada dalam jurang kemiskinan, jauh dari kualitas hidup yang ideal. Kita bisa jadi belum pernah merasakan seperti apa berada dalam posisi mereka.

    Hidup sudah nyaman, pekerjaan sudah mapan, penghasilan pun mencukupi untuk kebutuhan hidup, bahkan ada yang berlebih. Namun, sudahkah kita bersyukur? Ingatkah dan pedulikah kita dengan saudara-saudara kita yang tergolong kaum papa dan dhuafa? Ramadan seolah menyentuh naruni kita, dan menyadarkan pikiran kita, bahwa apa yang kita nikmati selama ini merupakan suatu nikmat yang tak terkira jika dibandingkan keadaan saudara-saudara kita yang kehidupannya lebih payah daripada kita. Syukur merupakan pintu dari respon positif kita untuk menyikapi kesenjangan yang ada dalam kehidupan kita.

    Ramadan juga menyadarkan kita, bahwa bukanlah harta, tahta, wanita, atau keturunan yang membuat seseorang mulia. Seorang manusia menjadi mulia ialah karena kesalehannya dan derajatnya yang tinggi di sisi Allah Swt. Jika seseorang yang kaya raya dan terpandang tapi sangat miskin imannya, tentu ia tak bisa dipandang mulia.

    Ramadan adalah bulan untuk berlomba-lomba melakukan amal saleh dan kebaikan. Bulan di mana kita memperbanyak silaturahmi, sedekah, zikir, tilawah, serta amalan-amalan lainnya yang mampu mengokohkan keimanan dan ketakwaan kita. Ramadan tak pernah mengajarkan sifat berlebihan, bahkan pola makan kita yang biasanya kita terapkan dengan sesuka hati, kini begitu minimalis. Hanya saat sahur dan setelah berbuka.

    Ini mengajarkan pada kita agar tak berlebih-lebihan. Hidup manusia sesungguhnya dapat sejahtera dengan “cukup” dan sesuai pada tempatnya (adil) dan bukannya berlebih-lebihan. Ramadan mengajarkan kita untuk dapat menahan diri, bahkan tak hanya terhadap hal-hal yang diharamkan, yang dihalalkan pun kini dibatasi oleh aturan.

    Ramadan pada hakikatnya, mengajari kita untuk merasa bersyukur dan senantiasa merasa cukup, sehingga tak tergoda oleh hawa nafsu yang tak pernah dapat terpuaskan.

    Biasanya, ketika kita hendak berbuka, segala makanan yang enak-enak terlintas di benak kita. Ingin ini, ingin itu. Tapi nyatanya setelah berbuka, cukup dengan tiga butir kurma dan segelas air, perut kita telah merasa penuh, dahaga dan lapar begitu saja terpuaskan.

    Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”(QS. Ibrahim [14]: 7).
    Bukanlah kuantitas yang bersandar pada hawa nafsu yang harus kita perjuangkan, melainkan rasa syukur kitalah yang membuat diri kita merasa cukup dan kenyang. (*)