• Headline

    Menuju Kebahagiaan dan Kemenangan Hakiki

    Oleh : Ahmad Heryawan20 Juni 2017 05:52

    Ramadan kian dekat dengan akhir. Tinggal sepekan lagi kita merasakan gempita Ramadan yang kurang lebih telah selama tiga pekan kita nikmati. Bagi orang-orang mukmin, perasaan sukacita karena akan segera bertemu dengan hari raya Idul Fitri akan tercampur dengan perasaan duka karena Ramadan akan segera meninggalkan kita.

    Bulan ketika pahala atas amal kebajikan dilipatgandakan dan pintu ampunan dibuka lebar-lebar, kini tinggal menghitung hari. Sukacita juga patut kita rasakan, sebab diri kita semestinya telah mengalami perubahan positif setelah ditempa dalam Ramadan. Sehingga, hari raya Idul Fitri layaknya suatu saat-saat kelulusan atau pelepasan bagi para peserta didik yang berhasil melewati pendidikan Ramadan. Jadi bukanlah hal yang aneh, manakala perasaan antara suka dan duka berkecamuk dalam menyambut hari Kemenangan di hari raya Idul Fitri yang akan segera kita jumpai.

    Mengacu pada satu hadis, bahwasanya orang yang berpuasa akan menemui dua kegembiraan, yakni kegembiraan ketika ia berbuka, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Allah kelak di akhirat. Idul Fitri bisa kita anggap sebagai puncak kegembiraan yang terakumulasi dari kegembiraan kita saat berbuka selama Ramadan ini, sebab ia juga merupakan perjumpaan atas penantian yang diidam-idamkan selama Ramadan. Dan pertemuan dengan Allah Swt. pun tentu saja merupakan akumulasi kegembiraan dan rahmat, karena telah berhasil menundukkan hawa nafsu kita, yang diuji melalui rangkaian shaum Ramadan. Sungguh, merupakan dua kegembiraan yang tak terkira, yang akan dirasakan oleh orang-orang beriman yang telah menjalankan ibadah puasa dengan keikhlasan hati dan kesungguhan.

    Dua kebahagiaan besar tersebut merupakan garis akhir dari arena pertarungan dengan hawa nafsu di bulan Ramadan ini. Bagi mereka yang memenangkan kegembiraan tersebut secara hakiki, mereka akan mempertahankan kualitas akhlak dan ibadah yang ditunjukkan selama Ramadan.

    Lisan akan senantiasa terjaga, perbuatan pun akan senantiasa dipikirkan berkali-kali sebelum melakukannya. Dengan demikian, tak ada lagi kata-kata kasar, kotor, umpatan, dan kesombongan yang terucap dari mulut kita. Begitupula dengan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Seolah-olah, motivasi kita telah di-setting untuk senantiasa menyalakan semangat fastabikul khairat, berlomba-lomba dalam kebajikan, di manapun dan kapan pun, sebagai imbas dari pembiasaan di bulan Ramadan ini.

    Oleh sebab itu, bagi mereka yang merasakan perubahan positif setelah melewati Ramadan, mereka patut bergembira, sebab mereka telah berhasil menjalani ujian dan telah berhasil meraih kemenangan yang hakiki. Shaum yang dilakukan pun telah berhasil membawa pada hijrah menuju kebaikan sekaligus mengubah diri menjadi diri yang lebih baik demi meraih predikat insan kamiil.

    Namun, ada pula mereka yang menapaki Idul Fitri dengan perasaan kegembiraan yang semu, yakni karena merasa bahwa Ramadan telah berakhir, tak ada lagi shaum. Bahkan, mereka merasakan bahwa shaum merupakan suatu hal yang merepotkan karena ia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang bagi mereka sangat mengekang. Bagi sikap demikian, kegembiraan dalam menyambut Idul Fitri merupakan kebahagiaan dan kemenangan yang semu.

    Sungguh suatu kerugian, sebab Ramadan selama sebulan tak membekas apapun pada kalbu mereka. Ibadah shaum hanya menjadi beban dan lewat begitu saja. Apalagi bagi mereka yang sama sekali lalai melakukan shaum. Mengharapkan ampunan dari Allah pun tentu akan jauh panggang dari api. Begitulah, mudah-mudahan kita merasakan kemenangan dan kebahagiaan yang hakiki di momen Idul Fitri mendatang. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.[*]