• Headline

    Kurangi Bicara yang Tidak Manfaat

    Oleh : Abdullah Gymnastiar02 Desember 2017 11:50
    Saudaraku, tidak setiap kita ingin bicara harus langsung dikatakan. Periksa hati dulu, apa niat kita berbicara? Semakin kita banyak bertanya, niscaya akan mendapat jawaban perlu atau tidaknya berbicara. Bicaralah sesudah yakin benar dan membawa manfaat.

    Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di akhirat nanti adalah orang yang paling jelek akhlaknya, orang yang banyak bicara, orang yang berbicara dengan dibuat-buat, dan orang yang sombong….” (Shahîh Al-Jâmi‘ Al-Shaghîr)

    Bentuk kejahatan lidah itu ada dua, yaitu lidah yang banyak membicatakan kebatilan dan lidah yang diam terhadap kebatilan. Kejahatan lidah memang bisa setajam pedang. Jika kita tidak hati-hati menggunakannya, ketajamannya bisa menumpahkan darah, sebagaimana pedang menusuk tubuh manusia. Bisa pula lidah itu membiarkan api yang membakar semakin besar.

    Suatu hari seorang laki-laki menemui Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Sungguh perempuan itu dikenal sering mengerjakan salat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi, ia juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.” Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka.” Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau perempuan yang satu lagi terkenal sedikit salatnya, puasanya, dan sedekahnya, tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah pun bersabda, “Sungguh ia termasuk ahli surga.” (HR Muslim)

    Hadis ini memuat dua pelajaran penting. Pertama, kita harus berbuat baik kepada tetangga, terutama apabila ia saudara sesama muslim. Bahkan, saking dianjurkan kita untuk menghormati tetangga, Rasulullah menganjurkan apabila kita memasak sup agar memperbanyak kuahnya supaya bisa dibagikan kepada tetangga.

    Kedua, hadis ini dengan tegas mengingatkan tentang bahaya lidah. Betapa jika tidak dikontrol iman, lidah bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Meskipun seseorang itu ahli ibadah, banyak salat, puasa, bila ia tidak mampu menjaga lidahnya dari melakukan fitnah, berbohong, dan dengki, amalannya tersebut hanya sia-sia.

    Oleh sebab itu, lidah bisa menjadi media taat kepada Allah, dan bisa pula untuk memuaskan hawa nafsu. Lidah bisa digunakan untuk membaca al-Quran, mengkaji hadis, dan menyampaikan nasihat, tetapi lidah juga bisa berubah layaknya penyulut api. Menyebarkan fitnah, bersaksi palsu, ghîbah, namîmah, dan memecah belah umat. Jika lidah seseorang digunakan seperti ini, seberapa banyak pun ibadahnya tetap tak ada gunanya, semuanya gugur gara-gara lidah yang terselip.



    TAG :


    Berita TERKAIT