• Headline

    Memahami Musibah sebagai Ujian

    Oleh : Abdullah Gymnastiar12 Januari 2018 11:00
    Allah SWT berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut [29]: 2-3)

    Saudaraku, bagi orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka musibah adalah sebagai bentuk ujian dari Allah untuknya. Allah menakdirkan ujian turun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman supaya derajat mereka naik semakin tinggi di hadapan-Nya. Yang sebelumnya mulia, maka semakin mulia. Yang sebelumnya takwa, maka semakin takwa.
    Maka, kita menemukan sebuah riwayat dari Mush’ab bin Said manakala ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Lantas Rasulullah pun menjawab, “Para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad)

    Allah SWT berfirman, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka kalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS. al Anbiyaa [21]: 34-35)

    Tentu kita ingat kisah Nabi Ayyub ketika Allah mengujinya dengan ujian yang sangat berat untuk ditanggung oleh seorang manusia. Nabi Ayyub merupakan hamba Allah yang dikaruniai kesejahteraan, kesehatan, dan kekayaan berlimpah. Sampai pada satu masa ujian datang kepadanya diawali dengan sirnanya segala harta kekayaan yang beliau miliki. Syaitan lalu datang menggoda Nabi Ayyub agar goyah imannya kepada Allah, tetapi keimanan beliau justru malah semakin kokoh.

    Ujian tidak sampai di sana. Setelah harta kekayaannya habis dalam waktu singkat, putranya yang teramat beliau sayangi meninggal dunia. Kemudian, beliau diuji dengan suatu penyakit yang merenggut kegagahannya. Hingga ujian berikutnya, beliau ditinggalkan istrinya. Setiap ujian demi ujian yang datang bertubi-tubi ini syaitan selalu datang menggoda Nabi Ayyub, agar menyusut keimanannya kepada Allah SWT.

    Namun, Nabi Ayyub tetap dalam keadaan seperti awal mula sebelum berbagai ujian itu datang kepadanya. Beliau tetap bersabar, tetap menjaga keyakinannya kepada Allah. Bahkan semakin deras ujian yang datang, justru semakin bertambah kuat pula keimanannya kepada Allah.

    Nabi Ayyub berhasil melalui setiap musibah yang datang menimpanya dengan kesabaran luar biasa, dengan ikhtiar dan doa yang luar biasa pula menggantungkan diri kepada Allah.

    Allah SWT berfirman, “(Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’”

    Nabi Ayyub pun mematuhi perintah Allah, sehingga Ia pun mengangkat derajat beliau, memberikan kesembuhan kepada beliau, dan mengembalikan berbagai kenikmatan yang pernah dimilikinya.

    Demikianlah ciri orang yang beriman kepada Allah. Ujian yang datang disikapinya dengan sikap-sikap yang Allah ridai. Ia tahan lisannya dari berkeluh kesah apalagi mengutuki keadaan. Ia jauhkan hatinya dari buruk sangka kepada Allah. Sehingga dengan demikian musibah yang datang kepadanya bisa ia lewati dengan baik, dan ia pun lulus ujian mendapat kedudukan lebih tinggi di hadapan Allah SWT.

    Orang yang beriman kepada Allah dan tetap menjaga keimanannya manakala musibah menimpa, maka ia akan memperoleh banyak sekali hikmah yang sungguh besar nilainya. Di antara hikmah tersebut adalah :

    Pertama, musibah menjadi jalan penggugur dosa baginya.

    Jangan dulu kita melihat musibah yang besar dalam pandangan kita, mari kita lihat dulu musibah yang kecil saja. Misalnya kaki kita tertusuk duri tanaman ketika berjalan sehingga kita pun merasa sakit. Bagi orang yang beriman, yang menyikapi kejadian ini dengan sabar, maka musibah kecil ini menjadi jalan terhapus dosanya.

    Rasulullah berfirman, “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Demikianlah karakter orang yang beriman. Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur. Jika sedangkan memperoleh keburukan, ia bersabar, kedua-duanya baik baginya, itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin.” (HR. Ibnu Hibban)

    Kedua, musibah menjadi jalan penyempurna keimanan.

    Musibah yang datang akan disikapi oleh orang beriman sebagai kesempatan emas untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Karena bagi orang beriman, musibah terjadi mutlak atas izin-Nya, sedangkan tiada satu pun kejadian di alam ini, sekecil apa pun kecuali pasti ada pelajaran di dalamnya.

    Maka, orang yang beriman kepada Allah akan meyakini dalam musibah tersebut ada pesan dari Allah, sehingga ia pun lebih sibuk menafakuri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mungkin ia sempat bersedih disebabkan suatu musibah, ini adalah hal yang manusiawi. Tetapi ia tidak berlama-lama dalam kesedihan karena ia yakin Allah senantiasa mencintai hamba yang beriman kepada-Nya.

    Rasulullah bersabda, “Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala’ sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai kesulitan.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana itu ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Karena tidak menyertai bala itu kecuali ada padanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan kesulitan.” (HR. Tabrani)

    Allah berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. al-Insyirah [94]: 5-8)

    Orang yang beriman kepada Allah akan melalui musibah sebagai ujian yang ia jalani dengan kesabaran, sehingga semakin naiklah derajatnya di hadapan Allah SWT.


    TAG :


    Berita TERKAIT