• Dusta

    Oleh : Abdullah Gymnastiar17 Mei 2018 10:43
    Jujur itu disenangi oleh Allah, dan termasuk ciri orang beriman. Sebaliknya,
    dusta itu sangat dimurkai oleh Allah, dan termasuk ciri orang munafik. Rasulullah Saw.
    menyerukan kepada umatnya agar senantiasa membiasakan berkata jujur dan
    menjauhi ucapan dusta.

    Dalam sebuah hadis dikatakan, “Hendaklah kamu berkata jujur, karena
    sesungguhnya kejujuran itu akan membawamu pada kebaikan, dan sesungguhnya
    kebaikan itu akan membawamu ke surge. Seseorang tidak henti-hentinya berkata jujur
    dan membiasakan kejujuran sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur.
    Jauhilah olehmu perkataan dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan
    membawamu pada durhaka, dan sesungguhnya durhaka itu akan membawamu ke
    neraka. Seseorang tidak henti-hentinya berdusta dan membiasakan dusta sampai ia
    dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).
    Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu berkata jujur karena kejujuran
    merupakan akhlak mulia yang akan mengarahkan seseorang kepada kebaikan,
    sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam hadis lain, “Sesungguhnya kejujuran
    membawa kepada kebajikan.”Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna
    kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat baik kepada sesama.
    Seorang mukmin yang hatinya senantiasa terkoneksi dengan Allah, tidak akan
    membiarkan lisannya berkata-kata tanpa batas, karena ia sadar bahwa setiap kata
    yang terucap dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. kelak di hari kemudian.
    Berdusta adalah sesuatu yang tak mungkin terlontar dari mulut seorang mukmin.
    Ali ibn Abu Thalib berkata: “Dosa paling besar di sisi Allah adalah kedustaan,
    dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat.”. Jangan
    meremehkan dosa dari berkata dusta, sebab meski kata-kata itu sepele, bahaya dusta
    sungguh bisa menggelincirkan manusia dari jalan Allah. Bukankah manusia itu
    terpeleset karena sesuatu yang sepele? Dan perkataan dusta paling bahaya adalah
    berdusta atas nama Rasulullah Saw. Dikatakan dalam sebuah hadits, “Barang siapa
    berdusta dengan membawa-bawa namaku, maka bersiap-siaplah untuk menduduki
    tempatnya di neraka.”(HR. Bukhari).
    Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapatkan dua kali
    kerugian.Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa
    dari perbuatan tercela ini.Kedua, jika kebohongannya diketahui orang lain, mereka
    akan kehilangan kepercayaan. Bahkan, kepadanya akan disematkan predikat pendusta
    atau pembohong.

    Orang yang berkata jujur dan tidak suka berbohong, secara psikologis tidak
    punya beban berat dalam hidupnya. Karenanya, hatinya senantiasa merasa tenteram
    dan damai. Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang dan
    dunia terasa sempit. Ia akan senantiasa merasa dihantui oleh perasaannya sendiri,
    karena ada perasaan khawatir kebohongannya diketahui orang lain.

    TAG :


    Berita TERKAIT