• Headline

    Menggunjing (ghîbah)

    Oleh : Abdullah Gymnastiar24 Mei 2018 11:16
    Secara sederhana,ghîbah adalah perbuatan menggunjingkan aib dan keburukan
    orang lain di belakangnya. Pengertianghîbah ini secara jelas disebutkan oleh Nabi
    Saw. dalam sebuah hadis: “Ghîbah adalah engkau membicarakan saudaramu dengan
    apa yang ia tidak suka (untuk dibicarakan).” Lalu ada sahabat bertanya, “Bagaimana
    jika saudaraku itu memang seperti apa yang aku bicarakan, wahai Rasulullah?” Beliau
    menjawab: “Jika saudaramu memang seperti apa yang engkau bicarakan, sungguh
    engkau telah meng-ghîbah-nya. Dan jika saudaramu itu tidak seperti apa yang engkau
    katakan, sungguh engkau telah menuduhnya.”(HR. Muslim, Tirmidzi).
    Mahasuci Allah yang senantiasa menyembunyikan aib dan keburukan kita.
    Tanpa kasih sayang-Nya, kita hanyalah seoongok daging hina, yang penuh dengan
    cela dan kekurangan. Karena itu, sungguh tidak pantas apabila kita sebagai manusia
    yang jauh dari kesempurnaan malah senang mengumbar aib dan menggunjingkan
    keburukan orang lain.
    Imam Al-Ghazali menyebutkan beberapa faktor yang mendorong seseorang
    berbuat ghîbah. Pertama, melampiaskan kemarahan. Jika sedang marah, seseorang
    akan dengan mudah menyebutkan keburukan-keburukan. Lisannya seakan-akan tidak
    terkendali untuk mengutarakan aib dan meluapkan emosi dengan kata-katanya yang
    penuh celaan dan makian.
    Kedua, menyesuaikan diri dengan kawan-kawan, dengan berbasa-basi dan
    mendukung pembicaraan mereka, walaupun pembicaraannya itu sedangkan
    menggunjingkan aib seseorang. Ketiga, ingin lebih dahulu menjelek-jelekkan seseorang
    yang dikhawatirkan membicarakan hal yang jelek mengenai dirinya di sisi orang yang
    disegani.
    Keempat, ingin bercuci tangan dari perbuatan buruk yang dinisbatkan kepada
    dirinya. Kelima, ingin membanggakan diri; engangkat dirinya sendiri dan menjatuhkan
    orang lain. Misalnya, ia mengatakan, “Si fulan itu bodoh, pemahamannya dangkal,
    ucapannya lemah.”
    Keenam, kedengkian. Bisa jadi ia mendengki orang yang disanjung, dicintai, dan
    dihormati banyak orang, kemudian ia berharap nikmat itu lenyap dari orang tersebut,
    tetapi tidak menemukan caranya kecuali dengan mempermalukan orang tersebut di
    hadapan banyak orang.
    Ketujuh, bermain-main, senda gurau, dan mengisi kosong waktu dengan lelucon
    dan candaan. Ia lalu menyebutkan aib orang lain agar orang-orang menertawakannya.
    Rasulullah Saw. bersabda: “Celakalah bagi orang yang mengatakan sesuatu agar
    ditertawakan oleh orang-orang kemudian dia berbohong. Celakalah baginya, celakalah
    baginya.”(HR. Tirmidzi).

    Kedelapan, melecehkan dan merendahkan orang lain untuk menghinakannya.
    Penyebabnya adalah kesombongan yang membuat seseorang memandang orang lain
    lebih rendah kedudukannya.
    Suatu ketika Jabir ibn Abdullah r.a. dan para sahabat lainnya bepergian bersama
    Rasulullah Saw., lalu terciumlah bau bangkai yang busuk. Rasulullah Saw. pun
    bertanya kepada para sahabat: “Apakah kalian tahu bau apa ini? Ketahuilah, bau busuk
    ini berasal dari orang-orang yang berbuatghîbah (menggunjing).” (HR. Ahmad).
    Karena perbuatanghîbahini berkaitan dengan erat dengan lisan yang mudah
    bergerak dan berbicara, kita hendaknya selalu memperhatikan apa yang akan kita
    ucapkan. Jangan sampai tanpa disadari kita terjatuh dalam perbuatanghîbah. Dan bila
    kita bisa menjaga lisan ini dari menyakiti orang lain dengan tidak menggunjingkannya,
    insya Allah kita akan menjadi Muslim sejati.

    TAG :


    Berita TERKAIT