LINGKAR BANDUNG
Sidang Putusan Perkosaan Anak di Bawah Umur Ricuh
Oleh: Ahmad Sayuti AK
Kamis, 22 November 2012, 17:22 WIB

INILAH.COM, Bandung - Sidang putusan terhadap lima terdakwa kasus pemerkosaan diwarnai kericuhan di Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (22/11/2012).

Bahkan massa yang simpati terhadap korban dan keluarganya sempat mengejar dan memukul seorang terdakwa. Seperti sidang sebelumnya, sidang kasus perkosaan dibarengi dengan aksi orasi massa yang simpati terhadap korban yang juga di bawah umur. Bedanya, saat ini orasi dilakukan di depan ruang sidang.

Kericuhan dipicu karena ketidakpuasan massa dengan vonis yang diberikan Hakim Dulaimi kepada para terdakwa, yakni divonis tiga tahun penjara dengan denda Rp60 juta subsider kurungan dua bulan penjara. Dalam amar putusannya, hakim menganggap kelima terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 82 UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal itu memuat tentang pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Ibu korban yang ikut persidangan sesaat setelah dibacakan vonis langsung berteriak histeris dan memaki Jaksa Penuntut Umum (JPU) Intan Permata Hati dan menyebutnya sebagai jaksa kejar setoran.

"Keluar kamu Intan (JPU), dasar kamu jaksa kejar setoran. Masa pemerkosa anak saya dihukum tiga tahun. Masa depan anak saya hancur selamanya. Nama aja Permata Hati, tapi tidak punya hati," teriaknya.

Teriakan ibu korban, langsung melecut emosi massa yang sedari tadi setia menunggu jalannya persidangan. Mereka pun merangsek masuk ke ruang sidang, polisi pun langsung membuat barikade untuk melindungi terdakwa. Karena emosi massa tak terbendung, seorang dari lima terdakwa sempat mendapat bogem mentah dari massa.

Tak cukup di situ, massa yang simpati terhadap korban pun berusaha mengejar jPU dan kuasa hukum terdakwa. Untung saja polisi sigap dan langsung mengamankannya. JPU Intan pun tidak berani keluar sebelum kondisinya benar-benar aman.

Sementara itu, kuasa hukum kelima terdakwa, Dadang Sukma wijaya mengatakan akan mengajukan banding terhadap vonis yang diberikan oleh Hakim Dulaimi karena bertentangan dengan tuntutan jaksa.

"Yang terbukti dalam sidang hanya pasal 82 saja. Sementara pasal 2 tidak terbukti. Karena itu, kami lakukan banding dan menuntut kelima terdakwa divonis bebas," ucap Dadang.

Padahal sebelumnya, kata Dadang, JPU menuntut dengan pasal pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Alternatif tuntutan lainnya adalah pasal 81 (pemerkosaan) dan 82 (pencabulan) UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.[jul]

Share berita: Facebook | Twitter
TERKAIT
2 Penyelundup Sabu Asal Iran Sidang di PN Cibadak
Oknum Wartawan di Sukabumi Lecehkan Adik Ipar
PN Bandung Raih Penghargaan Terbaik se-Indonesia
Ini Alasan Sidang Emon Digelar Tertutup
Demonstran Kutuk Mafia Tanah di PN Bandung