ASPIRASI
Sinergitas dalam Pembangunan
Oleh:
Jumat, 24 Mei 2013, 08:45 WIB

INILAH, Bandung - Ibu Kota DKI Jakarta tak pernah lepas dari wilayah-wilayah di sekitarnya. Dua masalah klasik yang dialami Ibu Kota, misalnya, seperti kemacetan dan banjir, tak lepas dari andil penduduk dan wilayah di sekitarnya, yakni Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur atau yang biasa disebut Jabodetabekjur.

Jakarta yang berpenduduk sekitar 10 juta, namun pada siang hari disinggahi lebih dari 12 juta orang yang berasal dari wilayah Bodetabekjur. Jika ditambah penduduk Bodetabekjur, warga metropolitan bisa mencapai lebih dari 28 juta jiwa, yang merupakan kota metropolitan terbesar keenam di dunia. Besarnya penduduk metropolitan Jakarta ini tentu menimbulkan banyak masalah.

Sedangkan banjir, sudah lama warga Jakarta “menyalahkan” wilayah di sekitarnya yang menjadi pemicu banjir, seperti kawasan Puncak yang berada di wilayah Bogor-Cianjur, Jawa Barat. Kerusakan lingkungan di Puncak, disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya banjir musiman di Ibu Kota. Dengan seabrek masalah itu, tentu tidak bisa cuma Pemprov DKI Jakarta yang harus menyelesaikannya. Kabupaten/kota yang berada di sekitarnya pun wajib hukumnya dilibatkan.

Konsep pengelolaan bersama wilayah Jabodetabekjur sendiri sebenarnya sudah dicetuskan saat Jakarta dipimpin Ali Sadikin di akhir tahun 1970-an. Sayangnya, konsep bernama Megapolitan Jakarta tersebut banyak ditentang. Konsep tersebut akhirnya diakomodasi di masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutioso yang mendapat dukungan Gubernur Jabar saat itu Danny Setiawan.

Sekitar setahun lalu, konsep Megapolitan pun kembali dimunculkan dengan nama Jabodetabekjur yang disepakati tiga pemerintahan provinsi, yakni Pemprov DKI Jakarta bersama dua provinsi penyangga Ibu Kota, yakni Pemprov Jabar dan Banten. Ketiga pemprov pun sepakat membentuk badan otoritas khusus yang menangani permasalahandi kawasan perbatasan tersebut, dengan nama Badan KerjaSama Pembangunan (BKSP) Jabodetabekjur. Grand design pun disusun untuk menyinergikan arah pembangunan yang sebelumnya berjalan masing-masing di tingkat kabupaten/kota. Lima permasalahan menjadi fokus kerja BKSP Jabodetabekjur, yakni soal tata ruang, transportasi, banjir, ketahanan pangan (agrobisnis), dan pengendalian penduduk (urbanisasi).

Di masa lalu, khususnya sebelum era Reformasi, Indonesia sendiri tak punya tradisi kerja sama antardaerah, tapi semua sentralistik. Sinergitas dalam melakukan penataan ruang oleh ketiga pemerintah daerah ini, tentu patut disambut positif. Dengan rencana pembangunan yang lebih terarah dan berjalan seusai visi misi ketiga pemerintahan, diharapkan wilayah Bodetabekjur tidak lagi menjadi masalah yang membebani DKI Jakarta.

Dengan konsep pembangunan yang sinergi di antara semua pemerintah kabupaten/kota yang dikomandoi Pemprov Jabar dan Banten, bersama Pemprov, diharapkan Ibu Kota bakal terbebas dari banjir, kemacetan di Ibu Kota negara tersebut bisa teratasi. Juga perekonomian dan kesejahteraan warga metropolitan Jakarta pun bisa semakin meningkat. Yang terpenting lagi, tidak ada lagi, saling menyalahkan antara pemerintahan saat permasalahan datang. Tapi sebaliknya, ketiga pemerintahan bersinergi mengatasi masalah tersebut dan bersinergi melakukan pembangunan untuk kebaikan bersama. [den]

Share berita: Facebook | Twitter
TERKAIT
Dishub Akui Keluhan Warga di Simpang Soeta-Kircon
Ke Bandung, RK Sarankan Warga Jakarta Naik Kereta
Honda Optimistis Jual 1.000 CBR150R di Jabar
Imbauan tak Diindahkan, Penyebab Macet di Kopo
Rombongan Calon Jamaah Haji Bikin Macet Jalan